Politikus Golkar Urung Jadi Pengusul RUU Ketahanan Keluarga

CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 10:00 WIB
Politikus Golkar Urung Jadi Pengusul RUU Ketahanan Keluarga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Endang Maria Astuti menarik diri dari pengusul Rancangan Undang-undang (RUU) Ketahanan Keluarga. Ia mengakui bahwa rancangan regulasi itu merupakan usulannya secara pribadi bersama empat anggota di DPR RI lainnya.

"Sebetulnya itu usulan pribadi dan memang sudah ditarik," kata Endang dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (20/2).

Dia menjelaskan bahwa ide dasar pengusulan RUU Ketahanan Keluarga adalah kasus narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) serta kekerasan seksual yang meningkat di tengah masyarakat.


Endang juga mengaku rancangan regulasi itu merupakan bentuk keprihatinannya melihat perilaku anak-anak di usia sekolah, dari SD hingga SMA yang telah menjurus ke arah seks bebas.

"Perilaku anak-anak SD, SMP, SMA yang sudah mengarah ke seks bebas dan tiba-tiba anak SMP melahirkan tanpa dia tahu sudah hamil. Itu sangat memprihatinkan pribadi saya," ucapnya.

Dia melanjutkan cara pencegahan terbaik terhadap berbagai hal itu adalah melalui keluarga. Menurutnya, kondisi keluarga yang rapuh berpotensi membuat anak-anak terjerumus dalam narkoba hingga seks bebas.

"Kami berharap solusi utamanya pencegahan yang paling baik harus dari keluarga. Jika keluarga rapuh, yang terjadi seperti saya uraikan di atas," ucap Endang.

RUU Ketahanan Keluarga telah masuk dalam Prolegnas Prioritas 2020. RUU ini sedang dalam proses harmonisasi di Baleg DPR RI sebelum masuk tahap pembahasan.

Draf aturan ini diajukan oleh lima politisi, yaitu Netty Prasetiyani dan Ledia Hanifa dari Fraksi PKS, Endang, Sodik Mudjahid dari Fraksi Partai Gerindra, serta Ali Taher dari Fraksi PAN.

[Gambas:Video CNN]
Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Golkar di Baleg DPR Nurul Arifin menyatakan bahwa RUU Ketahanan Keluarga telah menafikan unsur-unsur heterogenitas atau keanekaragaman.

Ia berpendapat tujuan pembuatan RUU Ketahanan Keluarga justru untuk mendidik keluarga secara homogen.

"Saya melihat RUU ini bertujuan mendidik keluarga secara homogen. Unsur-unsur heterogenitas dinafikkan," kata Nurul. (mts/wis)