Diduga Cabuli Siswa, Penjaga Sekolah di Jatim Ditangkap

CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 18:21 WIB
Polri mengungkap kasus pedofilia dengan korban tujuh siswa di sekolah di Jatim dan menyebut tersangka pernah jadi korban kekerasan seksual. Foto Ilustrasi. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polri menangkap seorang penjaga sekolah sekaligus pelatih ekstrakulikuler di salah satu sekolah di wilayah Jawa Timur. Ia diduga mencabuli siswa sekolah yang masih berusia dibawa umur (pedofil). 

Pria berinisial PS ini selain mencabuli juga merekam aksinya dan meyebarkan ke media sosial. Atas perbuatannya, PS ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal Undang-undang Perlindungan Anak dan UU Pornografi.

"Dia memaksa anak didiknya, ada tujuh orang sebagai korban berumur 6-15 tahun," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigadir Jenderal Argo Yuwono di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (21/2).


Ia menjelaskan bahwa tersangka melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak sesama jenis di lingkungan sekolah.

Tersangka memilih tempat yang jauh dari keramaian seperti Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah) dan Rumah Dinas Penjaga Sekolah.

Kemudian, Argo menuturkan bahwa aksi tersebut direkam dalam bentuk foto dan juga video untuk kemudian didistribusikan ke media sosial twitter yang berisi sesama jenis pedofil.

"Di-upload ke media sosial Twitter dengan nama akun @PelXXX dan @KonXXX yg berisi komunitas pedofil (anggotanya) sekitar 350 akun," jelas dia.

Perilaku menyimpang yang tersebar melalui media sosial itu kemudian terpantau oleh The National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) dan kemudian dilaporkan ke Direktorat Siber Bareskrim Polri.

[Gambas:Video CNN]
Kepolisian, kata dia, masih melakukan pengembangan penyelidikan untuk menelusuri keterlibatan dari 350 anggota komunitas.

Argo mengungkapkan tersangka mulai memiliki perilaku seks menyimpang sejak menjadi korban kekerasan seksual oleh pamannya di usia 5-8 tahun. Selain itu, tersangka terbawa oleh kebiasaannya melihat pornografi.

"Kebiasaan melihat konten pornografi anak di media sosial bersama komunitas pedofil," jelasnya.

PS kemudian dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) Jo Pasal 76 E dan/atau Pasal 88 Jo Pasal 76 I UU Perlindungan Anak dan/atau Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat (1) Jo Pasal 37 UU Pornografi dan/atau Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) UU ITE. Ia pun terancam hukuman penjara maksimal hingga 15 tahun atau denda Rp6 miliar.

(mjo/arh)