Aksi 212 Bubar, Jalan Medan Merdeka Barat Dibuka Kembali

CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 19:04 WIB
Aksi 212 Bubar, Jalan Medan Merdeka Barat Dibuka Kembali Masa aksi 212 'Berantas Mega Korupsi Selamatkan NKRI' di kawasan Monas, Jakarta, Jumat, 21 Februari 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa Aksi 212 'Berantas Korupsi' membubarkan diri pada Jumat (21/2) sore. Petugas kepolisian telah membuka kedua jalur di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Pantauan CNNIndonesia.com, saat ini sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat sudah dapat melintasi kedua jalur di Jalan Medan Merdeka Barat. Kawat berduri yang sebelumnya dibentangkan oleh aparat keamanan untuk menutupi jalan, juga sudah dilepaskan.

Sebelum membubarkan diri, massa sempat memunguti sampah yang berserakan di sekitar lokasi aksi. Petugas kebersihan juga terlihat menyapu dan memunguti sampah yang berserakan.


Aparat keamanan yang sebelumnya berjaga perlahan meninggalkan lokasi aksi, begitu juga dengan kendaraan seperti Barracuda dan Water Canon yang sebelumnya bersiaga di sekitar lokasi.


Aksi 212 ini dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan beberapa ormas lainnya di Jalan Medan Merdeka Barat, tepatnya di depan Gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Mereka menuntut aparat penegak hukum menuntaskan kasus korupsi yang diduga merugikan negara triliunan rupiah.

Dalam orasinya, salah seorang orator menyinggung kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan caleg PDI Perjuangan, Harun Masiku, kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya, hingga kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata (Asabri).

"Tangkap Harun Masiku, sudah 40 hari menghilang," kata salah seorang orator melalui pengeras suara.

Anak-anak ikut Aksi 212 di depan kawasan Patung Kuda, Jakarta. (CNN Indonesia/Thohirin)
PA 212 Kritik Aktivis 98

Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif mengkritik para aktivis 98 yang menurutnya telah mati hati dan rasa menyikapi kasus korupsi di Indonesia saat ini. Kritik itu ia sampaikan saat aksi 212 'Berantas Korupsi' di kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

"Kita lihat '98, kalangan akademisi yang katanya idealis, kritis, turun ke jalan tapi sekarang yang korupsinya gila-gilaan mati hati, mati rasa, tidak mau memperjuangkan aspirasi umat saudara," kata Slamet di hadapan massa aksi.


Slamet juga membandingkan praktik korupsi saat ini dengan era orde lama dan orde baru. Kata dia, jika zaman Orla korupsi di bawah meja, dan Orba di atas meja, hari ini korupsi dibawa dengan meja-mejanya.

"Zaman sekarang korupsinya sama meja-mejanya dibawa saudara. Betul?" Teriak Selamat yang langsung diiringi gelak tawa massa aksi.

Lebih lanjut, Slamet mengaku merasa heran dengan praktik korupsi yang banyak dilakukan di perusahaan milik negara atau BUMN. Ia secara rinci menyebut misalnya di Garuda, PLN, Pertamina, Jiwasraya, hingga Asabri.

Atas kasus itu, Slamet menilai ada kesalahan dalam mengurus negara ini. Ia juga menganggap bahwa pihak yang telah memberi jabatan yang seharusnya bertanggung jawab.

"Makanya kita ke Istana kita mengingatkan, hei yang memberikan amanat, hei yang tanda tangan SK. Hei engkaulah yang bertanggung jawab di hadapan rakyat," kata dia lagi diiringi tepuk tangan peserta aksi.

Slamet mengaku pihaknya akan terus menyuarakan aspirasi dalam pemberantasan korupsi. Bahkan, ia menyatakan siap jika menuntut negara untuk revolusi jika ada kepala negara telah terbukti terlibat dalam skenario korupsi. 


[Gambas:Video CNN] (yoa/pmg)