Ma'ruf lantas mengistilahkan praktik politik uang sebagai "NPWP" atau kepanjangan dari 'nomor piro, wani piro' atau "nomor berapa berani berapa".
"Jangan sampai pemilu ini dicederai dengan seperti yang tadi dijelaskan, adanya money politic atau bahasa anak-anak bilang itu jangan ada NPWP, nomor piro wani piro, jangan sampai sebar hoaks," ujar Ma'ruf saat membuka acara Indeks Kerawanan Pemilu di Hotel Redtop Pecenongan, Jakarta Pusat, Selasa (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Presiden PKS Sambangi Kantor DPP Golkar |
Tak hanya politik uang, Mantan Rais Aam PBNU itu turut meminta agar para kandidat calon kepala daerah menjauhi praktek berbau SARA untuk meraih simpati pemilih.
Ia berkeinginan agar para kandidat bersaing secara sehat. Cara-cara tak terpuji seperti politik uang, politisasi SARA hingga menyebarkan hoaks akan mencederai praktek demokrasi yang sudah matang di Indonesia.
Selain itu, Ma'ruf menyarankan agar seluruh kandidat kepala daerah mampu mencontoh kisah Nabi Yusuf yang pernah diangkat sebagai perdana menteri Mesir oleh Firaun beberapa abad silam.
Nabi Yusuf, kata Ma'ruf, berani untuk menonjolkan kemampuan yang dimilikinya di bidang perbendaharaan negara ketimbang bidang lainnya saat diminta Firaun jadi perdana menteri.
Melihat hal itu, Ma'ruf menyarankan agar para kandidat kepala daerah berani menonjolkan keunggulannya ketimbang memainkan isu negatif dalam meraih simpati pemilih.
"Kalau kita ingin dipilih boleh saja, kita menyampaikan kelebihan kita, keunggulan kita," kata Ma'ruf. (rzr/end)