Kopi Pagi dan Cerita Pengungsi Banjir Jakarta

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 06:14 WIB
Kopi Pagi dan Cerita Pengungsi Banjir Jakarta Suasana pengungsi banjir di Universitas Borobudur, Selasa (25/2) malam.(CNN Indonesia/ Ryan Hadi Suhendra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banjir mulai meninggalkan jejaknya di dalam gang kecil Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (26/2) pagi. Jalanan yang sebelumnya tergenang air, berlumpur, susah untuk dilewati, terlihat bersih seperti sebelum direndam banjir.

Seorang pria bertelanjang dada dengan celana pendek tengah duduk sendirian di depan rumah kecil dalam gang tersebut. Segelas kopi hitam di samping kanannya sudah mau habis.

"Baru bangun, habis bersih-bersih jalanan sama warga dari kemarin sore, sampai hampir tengah malam," kata pria bernama Awi itu, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/2).


Awi adalah orang asli Betawi. Ia beserta ratusan warga lainnya di RT 12 RW 8, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, adalah korban banjir akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Jakarta sejak Senin (24/2).

Selain di RT 12, beberapa RT lainnya di RW 8 juga terdampak musibah tersebut.

"Kalau di RT 12, itu kemarin air sekitar 1,5 meter merendam rumah. Kalau yang lebih dekat ke kali, mungkin lebih tinggi airnya," kata dia.

Awi mengungkapkan di wilayah tersebut, air sudah mulai naik beberapa centimeter menggenangi rumah warga sejak Senin sore. Hingga malam hari, ketinggian air semakin bertambah.

"Saya mengungsi dengan istri dan anak yang paling kecil ke Mesjid, tapi saat itu mati lampu, jadi saya bawa mereka ke rumah anak pertama, di Rawamangun. Saya balik lagi, sekalian jaga rumah," kata dia.

Rumah ibadah yang dimaksud Awi adalah Masjid Jami Ittihadul Ikhwan. Letaknya tidak jauh dari rumah Awi.

Masjid tersebut memang salah satu titik pengungsian warga korban banjir. Hingga Rabu (26/2) pagi, masjid itu masih dipadati warga pengungsi banjir. Mereka belum memutuskan untuk pulang karena khawatir akan terjadi banjir lagi.

"Kalau saya, banjir kemarin, kulkas, mesin cuci itu habis kerendam. Belum sempat saya cek kerusakannya sekarang," kata dia.

Saat banjir awal tahun 2020 lalu, ia mengaku, kulkas dan mesin cuci miliknya juga ikut terendam. Beruntung, kedua barang itu masih bisa diperbaiki, meski ia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp600.000. Bagi Awi yang sehari-hari bekerja membantu istrinya berjualan makanan, jumlah uang itu cukup besar.

Tidak hanya barang yang terendam banjir, tinggal sejak 1992 di daerah itu, ia juga pernah mengalami beberapa kejadian lainnya.

"Waktu paling parah itu (banjir) 2005 atau 2007 kalau tidak salah. Atap rumah saya ambruk, karena arus air. Saat itu pernah ada dari pemerintah yang datang mendata kerusakan rumah untuk ganti rugi, tapi hasilnya sampai sekarang nihil," ucap Awi.

Beberapa kali mengalami kejadian buruk karena banjir, ia mengaku tidak memiliki keinginan untuk pindah ke tempat lain, sebab, rumah tersebut adalah warisan dari mertuanya.

"Kalau warisan kan enggak berani jual. Lagipula, dari program pemerintah penggusuran di pinggir sungai, rumah ini tidak kena, ya jadi betah-betah aja," ucap dia.
Kopi Pagi dan Cerita Pengungsi Banjir JakartaWarga menggunakan ban bekas untuk melintasi genangan air di kawasan Sunter, Jakarta Utara. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Belajar dari Banjir Tahun Baru

Jika Awi pernah merasakan kerugian barang dan kerusakan rumah akibat banjir, lain halnya dengan Surati yang tinggal di RT 15 RW 8.

Kala itu, Rabu (1/1) pagi, setelah salat subuh, Surati sudah diingatkan anaknya untuk mengungsi ke Masjid, karena ketinggian air sudah mulai memasuki rumah warga. Namun, perempuan 59 tahun itu memilih bertahan di lantai 2 rumahnya.

"Anak saya keluar. Saya memilih di lantai 2. Pikiran saya waktu itu, ah nanti-nanti juga surut, karena biasanya banjir besar itu Februari," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Namun, ternyata, air tak kunjung surut di rumahnya. Ia pun terjebak di lantai 2 rumah itu, beruntung, masih ada makanan yang dibawanya.

"Dari subuh sampai jam 5 sore (terjebak). Akhirnya dijemput pakai ban sama anak saya, itu juga aksesnya susah," kata dia.

Belajar dari pengalaman terjebak belasan jam itu, ia tak mau terulang kembali, pada Senin (24/2) lalu, saat banjir sudah menggenang rumahnya dengan ketinggian 0,5 meter. Ia sudah mengungsi ke Masjid Jami Ittihadul Ikhwan.

"Sekarang takut, (air) baru sepinggang udah mengungsi, kan memang daerah rawan banjir disini," kata dia.

(yoa/kid)