Revitalisasi TIM, Anies Diminta Tiru Jokowi saat di Solo

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 16:41 WIB
Revitalisasi TIM, Anies Diminta Tiru Jokowi saat di Solo Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan diminta seperti Jokowi yang dinilai berhasil mengambil hati para PKL Solo saat relokasi Pasar Klitikan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan disarankan meniru langkah Joko Widodo (Jokowi) ketika di Solo soal rencana revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Wakil Ketua Komisi X Fraksi Golkar, Hetifah Sjaifudian mengenang langkah yang dilakukan Jokowi saat merelokasi para pedagang kaki lima di Pasar Klitikan, Solo saat menjabat wali kota. Saat itu, kata Hetifa, Wali Kota Jokowi membangun komunikasi yang intensif dengan para pedagang.

"Mas Anies ini ya memang harus lebih aktif berkomunikasi seperti Pak Jokowi. Waktu itu saya kebetulan empat tahun di Solo mengamati bagaimana proses pemindahan PKL itu," kata Hetifah dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/2).


Hetifah menilai kisruh revitalisasi TIM terjadi karena Anies gagal mengelola komunikasi dengan para seniman. Jokowi saat berencana merelokasi para PKL di Pasar Klitikan, kata Hetifah, berhasil mengambil hati PKL.
Menurutnya Anies tak cukup hanya melakukan sosialisasi dalam revitalisasi TIM. Mantan Mendikbud itu diminta menggandeng para seniman agar revitalisasi berjalan dengan lancar. Meski diakui Hetifah, hal itu sulit dilakukan.

Namun Hetifah tetap menyarankan DKI menyetop sementara proyek revitalisasi agar Anies bisa menjalin komunikasi dengan seniman.

"Apakah dimoratorium satu minggu atau satu bulan atau berapa ya tergantung. Selama kita bisa mencapai satu kesepahaman itu, saya kira itu bisa langsung dilanjutkan," ucapnya.

RDP soal revitalisasi TIM digelar Komisi X DPR RI atas aduan dari Forum Seniman Peduli TIM. Para seniman mempermasalahkan revitalisasi itu akan mengubah TIM dari pusat kesenian menjadi wilayah komersial.

[Gambas:Video CNN]

Revitalisasi TIM sendiri dimulai pada 3 Juli 2019. Saat itu, Anies melakukan peletakan batu pertama. Proyek ini ditangani oleh BUMD PT Jakarta Propertindo dan ditargetkan selesai pada tahun 2021. Namun desain baru ala Anies menuai perlawanan dari kalangan seniman.

Polemik berlarut. DPRD DKI kemudian meminta agar PT Jakpro meniadakan pembangunan hotel di TIM yang diketahui merupakan desain wajah baru TIM. Alasannya karena Hotel TIM itu dianggap komersil dan tidak sesuai dengan tujuan utama seni.

Alhasil, anggaran keseluruhan untuk PT Jakpro dipangkas hingga Rp400 miliar dari Rp3,1 triliun menjadi Rp2,7 triliun.

"Enggak ada hotel, kita gak kasih, kita potong dia Rp400 miliar, cuma kita kasih di JakPro untuk masalah TIM Rp200 miliar tidak ada buat hotel, revitalisasi, ada revitalisasi yang baiklah, jangan sampai ada komersilnya karena kiri kanan kan uda banyak hotel ya," tegas Ketua DPRD DKI, Prasetyo Edi Marsudi beberapa waktu lalu. (dhf/ain)