Menkes Sebut Arab Mestinya Negosiasi Sebelum Setop Visa Umrah

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 17:34 WIB
Menkes Sebut Arab Mestinya Negosiasi Sebelum Setop Visa Umrah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyayangkan sikap terburu-buru Arab Saudi setop visa umrah, tanpa melalui negosiasi. (CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan pemerintah Arab Saudi mestinya melakukan negosiasi terlebih dulu sebelum menghentikan sementara visa umrah di tengah merebaknya virus corona.

"Kan (kalau) ngomong-ngomong enak, ya toh, negosiasi dan sebagainya," ujar Terawan saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (27/2).

Meski demikian, Terawan mengatakan tetap menghormati putusan Saudi. Pihaknya tak dapat memaksakan lantaran kebijakan itu diputuskan demi kepentingan banyak orang.


"Ya namanya juga usaha demi rakyat, pasti kita melakukan upaya seperti itu. Tapi caranya juga kan halus. Itu keputusan sebuah negara kita harus hormatilah supaya tak jadi preseden buruk di kemudian hari," katanya.
Aturan penangguhan umrah dirilis Kerajaan Arab Saudi pada Kamis (27/2) dini hari. Dalam rilis itu, Kementerian Luar Negeri Saudi menuturkan akan melarang sementara warga negara asing yang ingin masuk ke negara dalam rangka ibadah umrah dan mengunjungi Masjid Nabawai di Madinah.

Selain berhenti mengeluarkan visa umrah, Saudi juga menyetop pemberian visa wisata bagi wisatawan asing yang berasal dari negara-negara yang memiliki kasus virus corona.

Menyikapi keputusan Arab tersebut, Kedutaan Besar RI di Riyadh kemudian memaparkan Duta Besar RI untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, telah berkomunikasi dengan Menteri Haji dan Umrah Saudi, Mohammed Saleh Benten, terkait kebijakan baru tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Agar kiranya jamaah umrah Indonesia yang sudah mengantongi visa umrah diizinkan masuk ke wilayah Saudi dengan pertimbangan RI tidak termasuk negara terkonfirmasi terkena wabah virus corona," bunyi pernyataan KBRI Riyadh pada Kamis (27/2).

Diketahui 3.225 kasus virus corona terjadi di luar China, episentrum awal penyebaran wabah virus corona. Sementara itu, sebanyak 2.801 orang di seluruh dunia meninggal akibat terinfeksi virus serupa SARS itu.

(psp/ain)