Diketahui, banyak negara, termasuk Indonesia, mengandalkan alat pengukur suhu tubuh atau thermal scanner di bandara untuk mendeteksi suspect Corona dari luar negeri.
Namun, ada 20 negara baru yang melaporkan kasus positif Corona, termasuk Indonesia. Sementara, jumlah korban di China mulai menurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus Corona jenis ini, kata Achmad, menunjukkan bahwa virus yang masuk tak sempat mereplikasi atau berkembang biak dalam tubuh. Sebab, replikasi virus akan menyebabkan suhu tubuh meningkat atau demam. Sementara, virus yang mampu mereplikasi diri hingga saluran pernafasan akan memicu lendir dan merangsang batuk.
[Gambas:Video CNN]
"Batuk itu di saluran nafas atas. Tapi begitu masuk di saluran bawah akan terjadi kegagalan pernafasan karena seluruhnya dilapisi lendir yang seakan paru-parunya tenggelam. Ini yang disebut pneumonia," papar dia.
Achmad menyebut itu terjadi karena, pertama, imunitas orang yang bersangkutan; dan kedua, virus yang semakin melemah.
"Ini yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kok inkubasinya tidak lagi 14 hari. Karena daya tahan tubuhnya bagus, maka tidak segera muncul gejalanya meskipun di dalam tubuhnya ada virus," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia memiliki dua pasien positif Corona yang pernah kontak dengan warga negara Jepang yang lebih dulu terinfeksi. WN Jepang itu disebut bisa keluar-masuk Indonesia tanpa terdeteksi masalah kesehatannya di bandara karena tanpa gejala demam.
Sejumlah pihak pun meminta pengawasan di bandara diperketat, baik lewat penambahan teknologi maupun tenaga medisnya.
(psp/arh)