Menurutnya, jumlah masyarakat yang pulang kampung dan potensi penyebaran virus corona bisa ditekan secara signifikan jika semua pihak bisa meniadakan program mudik bareng tersebut.
"Hal yang kongkrit yang dapat dilakukan bersama antara stakeholders adalah larangan pemberlakuan tradisi 'mudik bareng' tahun ini. Apalagi biasanya, mudik bareng sangat identik dengan pengumpulan massa yang tinggi baik di saat pemberangkatan, diperjalanan dan juga di ketibaan," kata Kastorius kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebijakan diam di rumah, work from home, mengurangi perjalanan ke luar kota, physical distancing dan meniadakan acara kerumunan orang banyak yang sudah dicanangkan oleh Kemendagri ke daerah, sebenarnya juga bermakna sama dengan anjuran penundaan untuk mudik dalam rangka jelang lebaran," ujarnya.
"Seperti yang dilakukan oleh gubernur Jawa Tengah yang membangun komunikasi dan kerjasama dengan provinsi asal mudik seperti DKI dan Jabar untuk sosialisasi gerakan tunda mudik tahun ini," katanya.
"Hasil rapid test ini akan berdampak pada menurunnya mobilitas arus mudik. Dan sebaliknya mereka yang negatif akan aman melakukan mudik," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengimbau masyarakat tak mudik saat libur lebaran Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, 24-25 Mei 2020. Pemerintah juga telah menetapkan tanggap darurat virus corona sampai 29 Mei mendatang.
Jumlah pasien positif virus corona secara kumulatif terus bertambah. Sampai kemarin, jumlah pasien positif menjadi 790 orang. Dari jumlah itu, 58 orang meninggal dunia dan 31 pasien dinyatakan sembuh. (rzr/fra)