Cerita Calon Pendeta di Kalteng Berjuang Sembuh dari Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 14:17 WIB
Masa menanti hasil laboratorium jadi beban tersendiri bagi Ergon Pranata. Pasalnya jika hasil tersebut positif, bakal berpengaruh pada orang-orang terdekatnya. Foto ilustrasi virus corona. (Stockphoto/spawns)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pasien positif corona di Palangka Raya, Kalimantan Tengah berbagi cerita usai dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Ergon Pranata Pieters namanya. Pria 26 tahun ini adalah seorang calon pendeta di ibu kota Kalteng itu.

Sekitar satu bulan lamanya Ergon harus menjalani perawatan dan isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah Doris Sylvanus, Palangka Raya. Ia dinyatakan sembuh dan negatif Covid-19 kemarin.


Dilansir dari Antara, Ergon mengaku sempat tak percaya dinyatakan sembuh.

"Pagi kemarin saya bangun, sebetulnya belum mendapat informasi dari rumah sakit, tetapi entah di grup WhatsApp ada yang mengabarkan saya sembuh," kata Ergon di Palangka Raya, Kamis (2/4).

Semula ia menduga yang dinyatakan sembuh adalah pasien lain. Namun pihak rumah sakit mengkonfirmasi kabar bahagia itu.

Ergon menuturkan, ia pertama kali merasakan gejala Covid-19 pada Maret 2020 lalu. Ia pada akhir Februari sempat mengikuti acara di Bogor, Jawa Barat.

Beberapa hari setelah kembali ke Palangka Raya, Ergon demam hingga menggigil. Ia juga mengalami batuk dan vertigo.

Ia kemudian memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit swasta dan kemudian dilakukan observasi. Dokter memutuskan ia berstatus sebagai pasien dalam pengawasan dan dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus.

Beban terberat menurutnya adalah masa menanti hasil pemeriksaan laboratorium untuk menentukan positif atau negatif Covid-19.

"Setelah dirujuk dan menjadi PDP di Doris, saya pun tidak tahu kapan akan keluar. Selama masa penantian menunggu hasil positif atau negatif, di situ lah beban paling besar, sehingga terus menangis dan haru," kata Ergon.

Ia merasa terbebani jika hasil nanti adalah positif. Pasalnya hal tersebut juga bakal berdampak pada orang lain, terutama orang terdekatnya.

Beruntung ia mendapat dukungan dari banyak pihak. Bukan hanya keluarga, tapi juga tenaga medis dan rekannya di gereja.

Hasil laboratorium Ergon keluar pada 26 Maret 2020. Hasilnya seperti yang ia khawatirkan sejak awal: positif Covid-19. Saat itu ia mengaku siap menerima hasil tersebut.

"Saya sudah siap karena semua hal sudah dilalui. Saya tidak berjuang sendirian, saya berjuang dengan para dokter, perawat dan dukungan banyak pihak lainnya," kata dia.

Orang-orang yang berdasarkan penelusuran riwayat dirinya sempat melakukan kontak pun sangat kooperatif. Mereka mematuhi anjuran dari Dinas Kesehatan dengan langsung memeriksakan diri, mengisolasi diri, hingga langkah-langkah pencegahan lainnya.

[Gambas:Video CNN]
"Dukungan mereka sangat besar pengaruhnya dan yang terpenting tidak ada yang menjauhi saya," ucapnya.

Lebih lanjut, Ergon bercerita tentang pengalamannya di rumah sakit. Menurutnya selama di sana apapun yang dibutuhkan selalu dipenuhi oleh para tenaga medis.

Penanganan tak hanya tentang Covid-19, namun juga keluhan lainnya. Bahkan, selama di ruang isolasi, ia diperbolehkan menggunakan telepon seluler, fasilitas memadai, sehingga ia tidak merasa bosan.

Ergon mengaku satu ruang dengan kenalannya yang juga positif Covid-19. Mereka berkomunikasi secara intensif meski melalui saluran telepon.

"Walau berdekatan, kami tidak boleh kontak langsung, tetap menggunakan saluran telepon. Dia kondisinya baik-baik saja dan semoga beberapa hari ke depan juga mendapat konfirmasi negatif atau sembuh," kata Ergon.

Menurutnya, saat dinyatakan sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit, tentu merupakan kabar yang sangat menggembirakan.

Meski begitu, selama hampir satu bulan di RS, membuatnya seperti sudah terbiasa. Ia bahkan mengatakan, keluar dari rumah sakit seperti dari meninggalkan zona nyaman. Pasalnya pelayanan rumah sakit tersebut sangat baik.

Ia menegaskan kekhawatiran pasti ada dalam dirinya dan orang-orang yang menjadi PDP maupun ODP. Ia menyarankan kekhawatiran itu dikelola dengan baik dan jangan sampai kalah.

Sementara itu, Direktur RSUD Doris Sylvanus Yayu Indriaty mengatakan Ergon merupakan pasien kedua yang dinyatakan sembuh untuk kasus positif Covid-19 di Kalteng.

"Statusnya sembuh dan diperbolehkan kembali ke rumah. Namun, pada kondisi saat ini, ia tetap harus berhati-hati, karena ia tidak kebal terhadap Covid-19 dan tetap berpotensi terkena kembali, jika kontak dengan seseorang yang positif Covid-19," katanya.

Sedangkan untuk surat pernyataan sembuh, RS tetap berkoordinasi dengan Balai Besar Penelitian Kesehatan.

(Antara/sur)