Bandung 'Lautan Sepi' di Masa Pandemi Corona

Melani Putri, CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 13:19 WIB
Bandung 'Lautan Sepi' di Masa Pandemi Corona Bandung nyaris seperti kota mati akibat invasi virus corona. (CNNIndonesia/Melani Putri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemilau lampu kota masih menghiasi setiap sudut-sudut Kota Bandung. Namun, kesunyian menyelimuti ruas jalan utama Kota Paris van Java itu di tengah pandemi virus corona.

Tidak ada lagi suara lalu-lintas kendaraan, juga tidak terdengar sayup-sayup obrolan orang-orang di sepanjang jalan pertokoan Kota Bandung.

Tidak pula terdengar gelak tawa remaja di pinggiran taman kota. Tak ada lagi barisan mobil angkutan umum menepi di pinggir jalan untuk menunggu penumpang sore itu.


Jalanan sepi. Hanya beberapa kendaraan melintas pada jam-jam tertentu. Jumlah pedagang kaki lima yang masih menjajakan dagangannya pun hanya segelintir.

Kota Bandung biasanya selalu ramai oleh para pelancong domestik maupun mancanegara. Banyak tempat hiburan, kawasan belanja, hingga tempat pelesiran bersama keluarga yang biasanya dipadati pengunjung.

Namun kini kawasan belanja dan pertokoan ditutup. Tempat hiburan dan klub malam juga ikut menutup pintu. Walhasil, Kota Paris van Java ini seperti kota mati.

Kawasan utara kota Bandung, yang biasanya dipadati wisatawan hingga macet berjam-jam kini sepi. Lalu lintas di Jalan Setiabudi hingga Jalan Raya Lembang cukup lengang. Tidak tampak kemacetan di dua ruas jalan utama tersebut.

Hanya beberapa orang yang tampak hilir-mudik menyusuri jalan. Beberapa di antara mereka sudah mengenakan masker.

Bandung pernah menjadi 'lautan api' di masa perang kemerdekaan karena invasi Tentara Sekutu pada 1946. Kotanya sengaja dibakar dan ditinggalkan banyak penduduk serta pejuang kemerdekaan.

Kini virus corona menginvasi. Bandung jadi 'lautan sepi'. Bukan karena ditinggalkan sebagian besar warganya. Mereka memilih bersembunyi di peraduan demi menghidari sergapan 'musuh tak kasat mata'.

Suasana lengang di Jalan Asia Afrika, Bandung. (Suasana lengang di Jalan Braga, Bandung. (CNNIndonesia/ Melani Putri)
Menurut pengakuan salah seorang warga setempat, Reno Reptri (22), Jalan Raya Lembang biasanya selalu ramai dilalui kendaraan roda empat.

"Bisa dibilang sepi, akhir pekan biasanya macet tapi kemarin enggak," ujar Reno kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/4).

Menurutnya, kawasan Lembang sepi pengunjung lantaran banyak tempat pariwisata yang ditutup. Kawasan Tangkuban Perahu, De'ranch, Floating Market dan Farmhouse yang menjadi tujuan utama wisata kini ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.

"Wisatawan sudah jarang yang main ke Lembang karena tempat wisatanya juga tutup ditambah imbauan stay at home," kata Reno.

Hal serupa juga terjadi di kawasan belanja di Bandung. Salah satu mal yang digemari remaja, Ciwalk tutup dan membuat ruas jalan Cihampelas sunyi kendaraan.

Biasanya jalan utama menuju pusat belanja modern tersebut tidak pernah sepi, apalagi menuju sore hari. Banyak kendaraan yang melintas, ditambah hilir-mudik orang yang menyeberang dan transaksi pedagang di pinggir jalan.

Tidak hanya Ciwalk, Braga City Walk, Bandung Indah Plaza (BIP), Paskal Hyper Square, Paris van Java dan The Kings juga sudah 'lockdown' sejak Maret lalu.

Selain itu, Pasar Baru Trade Center yang biasa menjadi tempat favorit belanja pakaian dan kebutuhan haji juga tutup. Hanya beberapa toko yang masih beroperasi, itu pun hanya setengah hari.

Ramai Virus Corona, Bandung Seperti Kota Mati
Daskini (46) seringkali mengunjungi Pasar Baru dan The Kings pada saat libur akhir pekan. Ia memilih dua kawasan belanja tersebut karena lokasi keduanya yang berdekatan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Ia biasa membeli perlengkapan muslimat yang dipesan pelanggan online shop-nya di Pasar Baru. Namun, semenjak pusat grosir dan pakaian tersebut tutup, ia tidak bisa membeli stok.

"Biasanya ke Pasar Baru beli kerudung untuk dijual lagi, ke Kings nyari stok, tapi sekarang pada tutup, bingung juga kasih tahu pelanggan dari luar Bandung," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Praktis, April ini Daskini tak lagi bisa menjual pakaian-pakaian muslimat karena tidak memiliki stok dagangan.

Situasi semakin sulit baginya mendekati Bulan Ramadan. Dia biasa mendulang uang di masa-masa. Pendapatannya per selama bulan puasa minimal sekitar Rp8 juta. Sementara di bulan-bulan lain, dia mendapat pemasukan sekitar Rp5 juta.

Kini untuk mendapatkan uang sejumlah itu dari usaha busana muslimatnya amat berat.

Jalan Asia Afrika Kota Bandung yang juga terlihat lengang. (Jalan Asia Afrika Kota Bandung yang juga terlihat lengang. (CNNIndonesia/ Melani Putri)
Tidak hanya tempat rekreasi dan belanja, kawasan hiburan yang terletak di Jalan Braga juga bernasib serupa. Jalanan sepanjang 600 meter tersebut biasanya ramai dilalui orang, ditambah dengan pub dan bar yang sesak jelang malam.

Beberapa restoran siap saji serta minimarket di sekitar Jalan Braga masih membuka layanan. Di beberapa titik di Jalan Braga banyak ditemui ojek online yang beristirahat sambil menunggu order masuk.

Raut wajah mereka seolah dilanda kecemasan lantaran menunggu orderan demi menafkahi keluarga.

Pertokoan sepanjang Jalan Braga memang diisi oleh kedai kopi, restoran siap saji, toko lukisan, pub dan bar serta area permainan biliar.

Kini tidak terdengar ingar bingar kehidupan malam di Braga. Musik yang mengalun keras saat gelap tiba kini tidak terdengar.

Al Jemi (22) sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sekitar Braga untuk bermain biliar. Biasanya Jemi menghabiskan waktu liburan akhir pekan bersama teman-temannya dari wilayah Jabodetabek.

"Sekarang stay at home semua, Braga juga tutup," ujarnya.

Jemi berharap virus corona cepat mereda supaya Bandung kembali seperti sedia kala. Ia juga mengatakan rindu berkumpul bersama teman sebayanya.

"Semoga cepat pulih Bandung, kangen juga hangout sama tema-teman," ucap Jemi.

Suasana kawasan Jalan Merdeka yang ditutup untuk kendaraan di Bandung, Jawa Barat.Suasana kawasan Jalan Merdeka yang ditutup untuk kendaraan di Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, memang sengaja memberikan instruksi untuk menutup tempat hiburan malam untuk menekan angka penyebaran virus corona di Jawa Barat. Menurut Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, sulit menerapkan social distancing di klub malam.

Sebelumnya Emil juga sudah menetapkan status darurat bencana wabah virus corona sejak 19 Maret hingga 29 Mei 2020.

"Hari ini aparat kepolisian sudah memerintahkan agar seluruh tempat hiburan malam ditutup. Biasanya hiburan malam menjadi salah satu tempat yang didatangi tamu luar negeri, ini bisa menjadi potensi penyebaran," kata Emil di Gedung Pakuan, Sabtu (21/3).

Selain area pertokoan dan pusat belanja, beberapa ruas jalan juga dikabarkan ditutup pada saat tertentu. Ruas Jalan Asia Afrika ditutup setiap harinya mulai pukul 08.00 WIB Hingga 15.00 WIB dan 18.00-21.00 WIB.

Polrestabes Bandung melalui akun instagram resminya mengatakan penutupan dilakukan demi meminimalkan kegiatan berkerumun di tempat umum.

"Penutupan Jalan Asia Afrika guna menekan penyebaran Covid-19, dengan tidak berkerumun dan beraktivitas di luar rumah," demikian keterangan Polrestabes Bandung.

Bandung kini masih harus rehat sejenak, menunggu situasinya benar-benar pulih dari darurat bencana wabah Covid-19.

Bandung kini jadi 'lautan sepi'. Ada waktunya nanti kita rebut kembali setelah berperang melawan ancaman nyata tapi tak kasat mata. Sekarang kita hanya butuh menepi demi memenangkan peperangan. Bertahan di rumah saja! (bac)

[Gambas:Video CNN]