Satgas Covid Catat 253 Ribu Pemudik Masuk ke Jabar Lebih Awal

CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2020 18:11 WIB
Sejumlah penumpang peserta 'Mudik Bareng Pemprov DKI Jakarta Ilustrasi pemudik. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Bandung, CNN Indonesia -- Pemerintah resmi melarang mudik Lebaran 2020 yang berlaku efektif, Jumat (24/4) untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Namun kenyataannya, sudah ada ratusan ribu orang yang mudik, salah satunya ke Jawa Barat.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat Daud Achmad mengatakan, sampai Selasa (21/4) ini tercatat sudah ada 253 ribu pemudik yang masuk ke Jawa Barat.

Mereka mudik lebih awal dari berbagai kota termasuk dari Jakarta dan sekitarnya karena berbagai alasan. Termasuk kekhawatiran wabah corona.


"Untuk pemudik dini sampai saat ini yang tercatat berdasar informasi dari Dinas Perhubungan, ada sekitar 253 ribu orang. Itu berdasarkan laporan dari pelabuhan udara, laut, kereta api dan terminal bus yang dikelola provinsi," kata Daud, Selasa (21/4).


Daud juga mengungkapkan data pemudik yang keluar Jawa Barat pada tahun lalu jumlahnya mencapai 3,6 juta jiwa.

Oleh karena itu, dengan dikeluarkannya larangan mudik dari presiden, Pemprov Jabar akan mengambil langkah strategis untuk meredam mobilitas warga saat Lebaran nanti.

"Mudah-mudahan dengan larangan tadi ini tidak bertambah dan bisa ditekan. Hal itu dilakukan semata untuk memutus rantai penyebaran dari Covid-19 ini," ujar Daud.

RK Dukung Larangan Mudik

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendukung langkah larangan mudik yang diambil Jokowi.

Ridwan menilai, larangan tersebut bisa mengendalikan jumlah pemudik yang masuk ke wilayah Jabar sekaligus menekan angka penyebaran Covid-19.

"Arahan Bapak Presiden sudah sesuai dengan aspirasi kami. Data menunjukkan makin banyak yang mudik, maka tingkat naiknya orang dengan positif Covid-19 juga makin tinggi. Makin sedikit mudik, maka positif Covid-19 juga makin sedikit," kata pria yang karib disapa Emil di Bandung, Selasa (21/4).


Dengan adanya instruksi presiden terkait larangan mudik tersebut, Pemprov Jabar mengambil sikap untuk lebih ketat menjaga di titik-titik masuk wilayah. Tak terkecuali di level RT/RW hingga ke kampung.

"Sehingga bisa menolak pemudik dengan lebih tegas dengan alasan darurat kesehatan ini," ujarnya.

Dia tak memungkiri mudik yang kerap dilakukan setiap tahun untuk menyambung tali silahturahmi. Namun dengan kondisi wabah virus corona yang maka lebih baik hal itu ditunda sementara waktu.

"Silaturahmi baik, tapi mencegah penyakit lebih baik. Silaturahmi bisa ditunda, tapi mencegah penyakit yang berujung kematian tidak bisa ditunda," kata dia menambahkan.

Emil pun mencontohkan beberapa kasus warga yang positif Covid-19 di Jabar karena dikunjungi oleh pemudik dari zona merah yaitu DKI Jakarta.

Dengan contoh kasus itu, dia pun meminta masyarakat di perantauan untuk tidak mudik ke daerahnya.

"Di Ciamis, korban mudik, di Cianjur korban mudik, di Sumedang kepala desa yang tidak kemana-mana tapi positif Covud-19 juga korban mudik. Jadi, data menunjukkan itu dan saya mengapresiasi ketegasan Bapak Presiden, sehingga pemudik bisa kita kendalikan," ujarnya.


Selain itu, Emil juga memastikan bahwa akan ada bantuan sosial kepada para perantau yang tidak mudik, termasuk para perantau yang ada di wilayah Jabar.

"Arahan Bapak Presiden juga jelas, sambil tidak mudik, bantuan-bantuan sosial kepada perantau yang tidak mudik, juga akan diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat," tuturnya.

Menurutnya, perantau dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, atau daerah lainnya nanti dibantu oleh bantuan sosial juga dari Pemprov Jabar. (hyg/osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK