Kronologi Ravio Patra Ditangkap versi Koalisi

CNN Indonesia | Kamis, 23/04/2020 15:30 WIB
Arrested man in handcuffs with hands behind back Ilustrasi (Istockphoto/BrianAJackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti kebijakan publik dan pegiat advokasi legislasi Ravio Patra dikabarkan ditangkap pihak kepolisian pada Rabu (22/4) malam. Penangkapan itu disinyalir berkaitan dengan peretasan dan pengiriman pesan berantai lewat pesan singkat WhatsApp yang dikirim dari nomor milik Ravio.

Salah satu anggota Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus, Direktur Eksekutif SAFEnet Damar Juniarto mengatakan Ravio kerap mengkritik pemerintah. Berdasarkan catatannya, Ravio sempat mengkritik Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar yang diduga kuat terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintah di Papua sampai tentang penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah.

Damar menyebut pelbagai kritikan itu berkaitan dengan apa yang tengah dikerjakan Ravio dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sebagai wakil Indonesia di Steering Committee Open Government Partnership (SC OGP).


Sebelum ditangkap, kata Damar, Ravio mengadu kepada SAFEnet perihal peretasan akun Whatsapp miliknya, Selasa (22/4) pukul 14.00 WIB. Ketika Ravio mencoba menghidupkan WhatsApp, muncul tulisan "You've registered your number on another phone".

Setelah Ravio melakukan pengecekan kotak masuk SMS, ada permintaan pengiriman One Time Password (OTP) yang biasanya dipakai untuk mengonfirmasi perubahan pada pengaturan WhatsApp.

Ravio juga mendapat panggilan sekitar pukul 13.19 WIB hingga 14.05 WIB dari dua nomor telepon dengan kode negara Indonesia, serta nomor telepon asing dengan kode negara Malaysia dan Amerika Serikat.

Ketika diidentifikasi melalui aplikasi, nomor tersebut merupakan milik AKBP HS dan Kol ATD.

"Kuat dugaan kami bahwa pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomor mereka untuk bisa mengambil alih WhatsApp yang sebelumnya didaftarkan dengan nomor Ravio," ujar Damar.

Damar mengatakan Ravio sudah menerapkan keamanan berlapis pada WhatsApp miliknya, yakni dengan menerapkan two way verification dan memasang sidik jari.

Ravio sendiri sempat memberi informasi melalui akun twitter @raviopatra bahwa WhatsApp miliknya telah diretas dan dikendalikan oleh orang lain.

Ia meminta agar tidak ada yang mengontaknya dan tidak menanggapi pesan yang datang dari nomornya, serta meminta agar akunnya dikeluarkan dari berbagai WhatsApp Group.

"Dua jam setelah membuat pengumuman, tepatnya pada pukul 19.00 WIB, WhatsApp milik Ravio akhirnya berhasil dipulihkan," kata Damar.

Hanya saja, lanjut Damar, selama diretas pelaku telah menyebarkan pesan palsu berisi sebaran provokasi sekitar pukul 14.35 WIB. Pesan yang dikirimkan ke sejumlah nomor tidak dikenal berbunyi, "Krisis sudah saatnya membakar! Ayo kumpul dan ramaikan 30 April aksi penjarahan nasional serentak, semua toko yang ada di dekat kita bebas dijarah".

Damar memandang motif penyebaran itu adalah alur untuk menempatkan Ravio sebagai pihak yang dijebak seolah-olah akan membuat kerusuhan.

Berdasarkan hal itu, Damar meminta agar Ravio mengumpulkan dan mendokumentasikan semua bukti supaya Divisi Keamanan Online SAFEnet bisa memeriksa perangkat tersebut lebih lanjut.

"Sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio menghubungi SAFEnet kembali dan mengatakan, 'Mas, kata penjaga kosanku ada yang nyariin aku tapi udah pergi. Tampangnya serem kata dia'," ujarnya.

Menurut Damar, SAFEnet meminta Ravio untuk mematikan dan mencabut baterai gawai sesuai prosedur keamanan standar, lalu mengevakuasi diri ke rumah aman.

Ia mengatakan Ravio sempat berkomunikasi dengan pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) untuk meminta nasihat hukum. Selain itu, Ravio juga menghubungi Komisioner Komnas HAM untuk meminta bantuan jika terjadi sesuatu dalam waktu dekat.

"Ravio sempat mengabarkan sedang bersiap mengevakuasi diri ke rumah aman, tetapi kemudian sudah lebih dari 12 jam ia tidak bisa lagi dihubungi," katanya.

Pada saat yang bersamaan atau sekitar pukul 00.30 WIB, kata Damar, muncul artikel di sebuah blog sosial dengan teks memojokkan Ravio disertai dengan hasil tangkapan layar yang mencantumkan pesan provokasi. SAFEnet pagi tadi mendapat informasi bahwa Ravio ditangkap semalam oleh intel polisi di depan rumah aman.

"Tidak tahu siapa yang menangkap, sekarang RP ada di PMJ (Polda Metro Jaya)," kata Damar kepada CNNIndonesia.com.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus membenarkan kabar penangkapan peneliti kebijakan publik dan pegiat demokrasi Ravio Patra. Penangkapan Ravio dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada Rabu (22/4) malam.

"Mengamankan seseorang inisial RPA, TKP penangkapan di Jalan Blora Menteng," kata Yusri dalam siaran langsung melalui akun Instgram Humas Polda Metro Jaya, Kamis (23/4).

Yusri menuturkan Ravio ditangkap karena diduga telah menyebarkan berita onar atau menghasut untuk membuat kekerasan atau menyebarkan kebencian. Penyidik Ditreskrimum Polda Metro masih memeriksa Ravio untuk mendalami kasus tersebut.

"Diduga menyiarkan berita onar dan atau menghasut untuk membuat kekerasan atau menyebarkan kebencian," ujarnya. (ryn/fra)

[Gambas:Video CNN]