Salah satu anggota Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus, Direktur Eksekutif SAFEnet Damar Juniarto mengatakan Ravio kerap mengkritik pemerintah. Berdasarkan catatannya, Ravio sempat mengkritik Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar yang diduga kuat terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintah di Papua sampai tentang penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Ravio melakukan pengecekan kotak masuk SMS, ada permintaan pengiriman One Time Password (OTP) yang biasanya dipakai untuk mengonfirmasi perubahan pada pengaturan WhatsApp.
"Kuat dugaan kami bahwa pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomor mereka untuk bisa mengambil alih WhatsApp yang sebelumnya didaftarkan dengan nomor Ravio," ujar Damar.
Damar mengatakan Ravio sudah menerapkan keamanan berlapis pada WhatsApp miliknya, yakni dengan menerapkan two way verification dan memasang sidik jari.
Ravio sendiri sempat memberi informasi melalui akun twitter @raviopatra bahwa WhatsApp miliknya telah diretas dan dikendalikan oleh orang lain.
Ia meminta agar tidak ada yang mengontaknya dan tidak menanggapi pesan yang datang dari nomornya, serta meminta agar akunnya dikeluarkan dari berbagai WhatsApp Group.
"Dua jam setelah membuat pengumuman, tepatnya pada pukul 19.00 WIB, WhatsApp milik Ravio akhirnya berhasil dipulihkan," kata Damar.
Damar memandang motif penyebaran itu adalah alur untuk menempatkan Ravio sebagai pihak yang dijebak seolah-olah akan membuat kerusuhan.
Berdasarkan hal itu, Damar meminta agar Ravio mengumpulkan dan mendokumentasikan semua bukti supaya Divisi Keamanan Online SAFEnet bisa memeriksa perangkat tersebut lebih lanjut.
"Sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio menghubungi SAFEnet kembali dan mengatakan, 'Mas, kata penjaga kosanku ada yang nyariin aku tapi udah pergi. Tampangnya serem kata dia'," ujarnya.
Menurut Damar, SAFEnet meminta Ravio untuk mematikan dan mencabut baterai gawai sesuai prosedur keamanan standar, lalu mengevakuasi diri ke rumah aman.
"Ravio sempat mengabarkan sedang bersiap mengevakuasi diri ke rumah aman, tetapi kemudian sudah lebih dari 12 jam ia tidak bisa lagi dihubungi," katanya.
Pada saat yang bersamaan atau sekitar pukul 00.30 WIB, kata Damar, muncul artikel di sebuah blog sosial dengan teks memojokkan Ravio disertai dengan hasil tangkapan layar yang mencantumkan pesan provokasi. SAFEnet pagi tadi mendapat informasi bahwa Ravio ditangkap semalam oleh intel polisi di depan rumah aman.
"Tidak tahu siapa yang menangkap, sekarang RP ada di PMJ (Polda Metro Jaya)," kata Damar kepada CNNIndonesia.com.
"Mengamankan seseorang inisial RPA, TKP penangkapan di Jalan Blora Menteng," kata Yusri dalam siaran langsung melalui akun Instgram Humas Polda Metro Jaya, Kamis (23/4).
Yusri menuturkan Ravio ditangkap karena diduga telah menyebarkan berita onar atau menghasut untuk membuat kekerasan atau menyebarkan kebencian. Penyidik Ditreskrimum Polda Metro masih memeriksa Ravio untuk mendalami kasus tersebut.
"Diduga menyiarkan berita onar dan atau menghasut untuk membuat kekerasan atau menyebarkan kebencian," ujarnya. (ryn/fra)