Jeritan Pedagang Kaki Lima Saat Mudik Dilarang karena Corona

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Selasa, 28/04/2020 07:27 WIB
Terminal bayangan di Pasar Rebo, Jakarta Timur kian sepi usai pelarangan mudik. Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL. Terminal Pasar Rebo sepi dan tak bersahabat bagi pedagang kaki lima. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Matahari sudah di atas kepala tapi tisu dan masker dagangan Hasanudin belum laku satupun. Dia duduk termenung di trotoar sambil menatap terminal bayangan Pasar Rebo yang kian sunyi lantaran dampak corona.

Hasanudin masih ingat betul betapa menggembirakannya bulan Ramadan tahun lalu. Dagangannya selalu ludes dibeli para pemudik yang hendak berangkat dari terminal bayangan itu.

Terminal bayangan Pasar Rebo jadi favorit pemudik karena melayani berbagai jurusan, mulai dari Garut di Jawa Barat hingga Ponorogo di timur Pulau Jawa. Ribuan orang pemudik berangkat dari terminal ini setiap tahunnya.


Keramaian itu membawa berkah bagi PKL seperti Hasanudin. Ia bisa mengantongi Rp300 ribu hingga Rp400 ribu setiap hari. Namun kisah manis itu tampaknya tak terulang di Ramadan kali ini.

"Bagaimana lagi begini. Karena dilarang, mudik sudah enggak ada. Dulu mah sebelum corona, kalau puasa alhamdulillah," ucap Hasanudin saat ditemui CNNIndonesia.com di terminal bayangan Pasar Rebo, Jakarta, Senin (27/4).

Pria paruh baya itu bilang kini hasil penjualan tisu dan masker habis untuk mengganti modal. Hanya Rp15 ribu yang ia kantongi setiap harinya.

Terminal bayangan di Pasar Rebo, Jakarta Timur kian sepi usai pelarangan mudik. Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL.Terminal bayangan di Pasar Rebo, Jakarta Timur kian sepi usai pelarangan mudik. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)
Sementara kontrakan di kawasan Cawang seharga Rp250 ribu per bulan tak bisa ditunda pembayarannya. Begitu juga kehidupan dua anaknya yang masih kecil.

"Ya, sekarang yang penting bisa makan dulu anak-anak. Kontrakan saya minta bayar bulan depan, mudah-mudahan cepet kelar dah," kata Hasanudin memanjat harap.

Pedagang lainnya, Lina, juga mengeluhkan hal yang sama. Sehari-hari ia berdagang kopi dan minuman dingin di sekitar terminal bayangan Pasar Rebo.

Perempuan asal Semarang itu kini hanya bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp30 ribu per hari karena terminal semakin sepi.

"Sekarang kan yang lewat bus dalam kota saja, sudah enggak boleh yang buat mudik. Paling satu bus cuma lima orang. Sepi," ucap Lina kepada CNNIndonesia.com.

Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)
Lina bilang biasanya kalau Ramadan, ia dan suami mulai mencicil untuk biaya pulang kampung. Mereka biasa memanfaatkan momen lebaran untuk menyapa tiga anak mereka yang masih kecil di kampung halaman.

Namun ia ragu kali ini. Sebab pemasukannya dan suami menurun drastis di masa krisis corona. Suami Lina biasanya menjadi kuli panggul di Pasar Induk Kramatjati. Penghasilannya anjlok dari Rp300 ribu per hari menjadi Rp60 ribu per hari.

"Biasanya tiket bus Rp300 ribu per orang. Ini enggak tahu deh pulang apa enggak, kebanyakan keluarnya daripada masuknya," ucap Lina sambil tertawa.

Pemerintah telah menetapkan larangan mudik untuk Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah. Larangan itu mulai diterapkan pada Jumat (24/4) dengan penerapan sanksi mulai Kamis (7/5). (jun)