Hasanudin masih ingat betul betapa menggembirakannya bulan Ramadan tahun lalu. Dagangannya selalu ludes dibeli para pemudik yang hendak berangkat dari terminal bayangan itu.
Lihat juga:Pendaftar Kartu Prakerja Tembus 8 Juta Orang |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana lagi begini. Karena dilarang, mudik sudah enggak ada. Dulu mah sebelum corona, kalau puasa alhamdulillah," ucap Hasanudin saat ditemui CNNIndonesia.com di terminal bayangan Pasar Rebo, Jakarta, Senin (27/4).
Terminal bayangan di Pasar Rebo, Jakarta Timur kian sepi usai pelarangan mudik. (CNNIndonesia/Dhio Faiz) |
"Ya, sekarang yang penting bisa makan dulu anak-anak. Kontrakan saya minta bayar bulan depan, mudah-mudahan cepet kelar dah," kata Hasanudin memanjat harap.
Pedagang lainnya, Lina, juga mengeluhkan hal yang sama. Sehari-hari ia berdagang kopi dan minuman dingin di sekitar terminal bayangan Pasar Rebo.
Perempuan asal Semarang itu kini hanya bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp30 ribu per hari karena terminal semakin sepi.
"Sekarang kan yang lewat bus dalam kota saja, sudah enggak boleh yang buat mudik. Paling satu bus cuma lima orang. Sepi," ucap Lina kepada CNNIndonesia.com.
Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL. (CNNIndonesia/Dhio Faiz) |
Namun ia ragu kali ini. Sebab pemasukannya dan suami menurun drastis di masa krisis corona. Suami Lina biasanya menjadi kuli panggul di Pasar Induk Kramatjati. Penghasilannya anjlok dari Rp300 ribu per hari menjadi Rp60 ribu per hari.
Pemerintah telah menetapkan larangan mudik untuk Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah. Larangan itu mulai diterapkan pada Jumat (24/4) dengan penerapan sanksi mulai Kamis (7/5). (jun)
Terminal bayangan di Pasar Rebo, Jakarta Timur kian sepi usai pelarangan mudik. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)
Sepinya penumpang berdampak pada penghasilan para PKL. (CNNIndonesia/Dhio Faiz)