Kepala Kampanye Jatam Nasional, Melky Nahar mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pemantauan terhadap tambang yang masih beroperasi di sejumlah wilayah mulai, Sulawesi, Maluku, Banyuwang, hingga Papua, mulai dari 31 Maret sampai dengan 4 Mei 2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melky lebih lanjut mengemukakan sejumlah persoalan pada perusahaan tambang yang beroperasi. Sejumlah persoalan itu mulai dari, eksploitasi buruh, fasilitas kesehatan minim, intimidasi dan kriminalisasi, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun merumahkan karyawan.
Kejadian longsor di penambangan Bolaang Mongondow pada Februari 2019. (AP Photo/Harry Tri Atmojo) |
Kondisi itu, lanjut Melky, justru akan menambah risiko keselamatan dan kesehatan buruh, bukan hanya risiko terinfeksi corona, namun juga bahaya atau penyakit lain.
"Bagi mereka para buruh yang tak mau bekerja tak bakal dibayar. Sanksinya 'no work no pay' dan kepastian kembali kerja belum menjamin," ujarnya.
Melky memperkirakan kasus serupa terjadi di perusahaan tambang lain yang masih beroperasi. Namun, hal itu sulit diungkap sebab tak ada pemeriksaan yang dilakukan secara masif, selain sikap perusahaan yang tertutup.
Lebih lanjut, Melky menyatakan pihaknya juga menyoroti kabar masuknya tenaga kerja asing (TKA) asal China. Kondisi itu, kata dia, kontras dengan sikap pemerintah yang telah membatasi aktivitas masyarakat guna menekan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.
Kejadian longsor di penambangan Bolaang Mongondow pada Februari 2019. (AP Photo/Harry Tri Atmojo)