Menurut Ubaid, pihaknya menyarankan hal tersebut mengingat banyak keluhan stres dan tekanan yang ditemukan pada siswa selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena dampak Covid-19 atau virus corona.
"Saran kami ada semacam stress healing. Karena anak-anak kan kodratnya bermain. Tapi selama pandemi harus stay at home. Mereka juga tertekan," ucap Ubaid kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pandangan Ubaid, pemerintah belum memiliki panduan atau kurikulum darurat untuk diterapkan di tengah pandemi guna menanggulangi masalah ini.
Untuk itu ia menilai wacana belajar kembali di sekolah bisa jadi solusi yang positif. Salah satunya karena mempertimbangkan kondisi psikologis siswa selama PJJ dilakukan.
![]() |
Kemendikbud sebelumnya mengatakan berpeluang membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli atau tahun ajaran 2020/2021. Pembukaan sekolah kembali itu dimungkinkan untuk daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah Covid-19.
PJJ sendiri sudah berlangsung sejak pertengahan Maret di sebagian besar daerah di Indonesia. Survei Kementerian Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan 58 persen anak tidak suka belajar dari rumah.
Analis kebijakan publik dari Wahana Visi Indonesia, Tira Maya Malino menilai pemerintah harus mempertimbangkan kondisi psikososial siswa ketika PJJ dilakukan.
Hal itu karena pihaknya menemukan laporan siswa tertekan akibat jadwal PJJ yang ketat. Maupun sikap orang tua yang tak mendukung kegiatan belajar di rumah. (fey/ugo)
