GP Ansor soal Prakerja: Tak Ada Kemauan Menolong Rakyat

CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 19:19 WIB
Ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil memberikan keterangan kepada media terkait pernyataan sikap GP Ansor atas insiden pembakaran bendera bertuliskan tauhid di Garut oleh Banser beberapa waktu lalu, Jakarta (24/10). Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai Program Kartu Prakerja yang diluncurkan pemerintah sejak 11 April 2020 menunjukkan sikap pemerintah yang tidak benar-benar ingin menolong rakyat.

Ia mengatakan, di masa pandemi corona, masyarakat lebih membutuhkan tambahan pendapatan daripada sekadar pelatihan online yang ada dalam program Kartu Prakerja.

"Pemerintah seperti tidak memiliki kemauan cukup kuat untuk benar-benar menolong rakyatnya. Tambahan pendapatan sebesar Rp1 juta tentu jauh lebih berguna daripada hanya memperoleh sertifikat tapi tidak akan tahu apa manfaatnya," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (11/5).


Ia mengatakan memberikan bantuan tunai akan bisa menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menjadi asa menjaga pertumbuhan ekonomi. Mengingat, kata dia, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama PDB Indonesia.

"GP Ansor berharap pemerintah memperkuat resiliensi masyarakat bawah dengan menginvestasikan lebih banyak program yang bisa langsung dinikmati dan dapat menjawab kebutuhan dasar mereka," ucap dia.
Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas saat ditemui di Muktamar PKB, Bali, Rabu (21/8)Yaqut Cholil Qoumas. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)


Selain itu, ia mengatakan dana Rp5,6 triilun yang digelontorkan untuk platform digital pada program Kartu Prakerja telah mencederai keadilan masyarakat. Alih-alih membantu, kata dia, pemerintah justru menjadikan perusahan-perusahaan digital tersebut bertambah pundi-pundinya dengan uang APBN.

"Ini kayak pemberian cuma-cuma pemerintah dalam jumlah besar kepada korporasi swasta justru di saat negara sedang menghadapi keterbasan anggaran," ucap dia.

Menurut dia, beberapa sesi pelatihan di Kartu Prakerja mudah ditemukan di banyak platform media sosial dan daring secara secara gratis. Bahkan, ia menyebut GP Ansor saja bisa membuat pelatihan online gratis dan praktis.

Tak hanya itu, kata dia, Program Kartu Prakerja yang hanya bisa diakses secara daring menjadikannya tidak inklusif dan tidak dapat diakses bagi sebagian kalangan masyarakat. Meminjam catatan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hampir separuh penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap internet.

"Hentikan kerja sama dengan platform digital Kartu Prakerja di saat pandemi masih berlangsung. Realokasikan anggaran untuk bantuan tunai bagi masyarakat," imbuh dia.

Sebelumnya, pemerintah menggelontorkan anggaran sebesar Rp20 triliun untuk program kartu prakerja. Dari total anggaran itu, biaya pelatihan sebesar Rp5,6 triliun, dana insentif Rp13,45 triliun, dana survei Rp840 miliar, dan dana PMO Rp100 juta.

Pemerintah kemudian menunjuk delapan perusahaan sebagai mitra kartu prakerja, seperti Tokopedia, Skill Academy by Ruangguru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijarmahir, dan Sisnaker.

Pemerintah menargetkan 5,6 juta orang menjadi penerima kartu prakerja. Mereka akan mendapatkan bantuan pelatihan Rp1 juta, penuntasan pelatihan Rp600 ribu per bulan selama empat bulan, dan 150 ribu untuk survei ketenagakerjaan. (thr/ain)

[Gambas:Video CNN]