Madani Sebut 5 Provinsi Rawan Karhutla di 2020

CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2020 05:00 WIB
karhutla palembang Ilustrasi karhutla di Sumatera Selatan. (CNN Indonesia/Hafidz).
Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Madani Berkelanjutan memetakan lima provinsi di Indonesia rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terluas pada 2020.

Kelima provinsi tersebut adalah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Papua, dan Sumatera Selatan.

GIS Specalist Yayasan Madani Berkelanjutan, Fadli Ahmad Naufal mengatakan, pemetaan yang dilakukan tersebut didasarkan pada sejarah kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Indonesia pada periode 2015-2019.


"Pendekatan ini melalui sejarah terbakar di 2015-2019, kami coba mengkompilasi dari data tersebut," kata Fadli dalam sebuah diskusi daring, Rabu (13/5).

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam melakukan pemetaan, ada tiga poin yang menjadi perhatian. Pertama tutupan lahan apa saja yang selama periode tersebut terus terbakar. Kedua, apakah jejak terbakar berdekatan dengan konsesi terutama sawit, dan ketiga apakah kebakaran berada di lahan gambut dan non-gambut.

"Ini menjadi masukan kami ke pihak terkait bahwa provinsi-provinsi tersebut harus menjadi perhatian di 2020 untuk menekan luasan karhutla," ucap Fadli.

Berdasarkan data rekapitulasi karhutla pada situs SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas lahan yang terbakar sampai pertengahan tahun 2020 mencapai 8.253 hektare.

Rinciannya paling luas terjadi di Riau dengan 2.765 hektare terbakar, disusul Papua Barat dengan 1.419 hektare, Kalimantan Barat 770 hektare dan Kalimantan Tengah 725 hektare.

Sebelumnya, KLHK mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan memasuki musim kemarau di tiga provinsi di Indonesia: Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Menurut prediksi BMKG, tiga provinsi tersebut memasuki kemarau pada bulan Juni hingga Juli. Pemerintah juga menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC), berupa hujan buatan mulai Mei ini.

"Karena pada bulan tersebut potensi awan masih optimal untuk penyemaian garam untuk hujan buatan," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (30/4). (yoa/gil)

[Gambas:Video CNN]