Riza mengatakan salah satu masalah yang muncul terkait data penerima bansos ini karena warga tak jujur. Pihaknya menemukan banyak warga yang sebetulnya sudah pindah tempat tinggal dan berkecukupan, tapi masih menerima bansos.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal di situ (warga) cuma pakai alamatnya, (dia) bisa sopirnya, pembantunya, tapi yang ditulis di situ nama kepala keluarga," ujarnya.
"Yang merasa sudah tidak berhak, ya tidak usah mengambil. Yang merasa berhak tinggal sampaikan apa adanya, nanti kami akan kompilasi, harmonisasi dan sinkronkan datanya," tuturnya.
Penerima Bansos Bertambah
Riza menambahkan, untuk bansos tahap dua, data penerima akan bertambah hingga sekitar 2,15 juta kepala keluarga. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Sebelumnya, pada penyaluran bansos tahap pertama DKI hanya menyalurkan kepada sekitar 1,2 juta kepala keluarga yang membutuhkan.
"Dari data itu kita sudah koordinasi dengan Kemensos. Kami juga sudah rapat dengan Kemensos dan Kemenko PMK," kata Riza.
Menurut Riza, penyaluran bansos tahap dua akan dimulai pada 10 hari sebelum Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1441 Hijriah.
"Kami juga sudah bagi wilayah (penyaluran bansos)," ujarnya.
Sebelumnya tiga menteri Kabinet Indonesia Maju mengkritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lantaran masalah pembagian bansos.
Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Sosial Juliari Batubara menilai bansos untuk warga miskin dan rentan miskin dampak virus corona yang dijalankan DKI tidak sesuai dengan perjanjian dengan pemerintah pusat.
Menurutnya, selama ini persoalan data penerima bansos yang dimiliki pemangku kebijakan, baik di tingkat daerah maupun pusat memang perlu perbaikan. Sejak 2011 lalu data-data tersebut belum pernah diperbaiki. (dmi/fra)