Menurutnya pihak yang tak jelas justru Budi Arie karena berbicara tanpa fakta dan tendensius. Pernyataan ketua umum Relawan Pro Jokowi itu juga disebut bernuansa politis dan hanya untuk mendiskreditkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun meminta kepada pejabat di level pemerintah pusat tidak membuat gaduh suasana yang dapat mengganggu upaya membantu masyarakat yang terdampak pandemi virus corona.
"Kemarin pak Wagub memberi tahu perbaikan data sedang proses transfer ke Kemensos," kata Muhadjir saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (13/5).
Ia berharap perbaikan data penerima bansos ini membuat bantuan presiden dari pemerintah pusat dan bantuan pemerintah daerah bisa sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Muhadjir membantah data penerima bansos yang bermasalah hanya di DKI Jakarta. Hanya saja, kata Muhadjir, selalu ada penyesuaian data penerima saat awal pembagian bansos.
"Tidak juga (DKI data paling buruk). Hanya biasanya selalu ada data yang perlu disinkronkan pada saat awal pembagian bansos. (Daerah lain) hingga saat ini belum ada laporan tentang data bermasalah," ujarnya.
Anies sempat disindir oleh Menteri Sosial Juliari Batubara soal data penerima bansos di Jakarta selama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
"Nanti diumumkan bareng dengan Kemensos, biar tidak sepihak," kata Anies, Selasa (12/5).
Masalah data penerima bansos DKI turut dikritik Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) Budi Arie Setiadi. Ketua umum Relawan Pro Jokowi itu menyebut data penerima bansos DKI Jakarta paling kacau dan ngawur.
Menurutnya, selama ini persoalan data penerima bansos yang dimiliki pemangku kebijakan, baik di tingkat daerah maupun pusat memang perlu perbaikan. Sejak 2011 lalu data-data tersebut belum pernah diperbaiki. (dmi/tst/fra)