New Normal Anak KRL, Berusaha Tenang Meski Corona Mengintai

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 16:16 WIB
Suasana KRL Commuter Line di  Bogor, Jawa Barat, Senin (20/4/2020). Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyatakan Pengguna transportasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menurun selama pandemi COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp. Para penumpang KRL Jabodetabek di masa pandemi virus corona. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Matahari mulai merangkak ketika Sugeng tiba di depan Stasiun Duren Kalibata, Jakarta, Senin (18/5) lalu. Suasananya lengang meski pagi itu adalah hari kerja pertama bagi pegawai kantor.

Mengenakan ransel hitam yang tampak berat, Sugeng melangkah ringan memasuki area stasiun. Tak ada antrean mengular di loket tiket seperti biasa terjadi pada hari-hari sebelum virus corona mewabah. 

Langkah Sugeng sempat terhenti saat seorang petugas berseragam mengarahkan termometer elektronik ke wajahnya yang sebagian ditutupi masker. Tanpa diperintah ia lantas memberikan dahinya. Tak lama petugas itu pun mengangguk, isyarat bahwa suhu tubuhnya aman untuk menumpang KRL commuter line.


Sugeng adalah tukang service elektronik panggilan. Mobilitasnya bergantung pada commuter line. Sepeda motornya telah lama rusak dan tak kunjung ia perbaiki. Dalam seminggu, ia bisa 3-5 kali naik KRL pulang pergi.

Terkadang Sugeng menumpang Transjakarta atau angkutan umum lain jika tempat yang dituju tak dilewati KRL. Hari itu, tujuannya adalah Stasiun Cikini, Jakarta Pusat.

"Kalau dekat dari stasiun ya naik kereta untuk berangkat. Kadang naik bus, tapi seringnya kereta, tergantung di daerah mana hari itu kerjannya," cerita Sugeng.

Tak banyak calon penumpang di peron Kalibata. Sekitar belasan orang yang tersebar di tepian peron.

Suasana Stasiun Duren Kalibata, Senin (18/5) pagi.Suasana Stasiun Duren Kalibata, Senin (18/5) pagi. (CNN Indonesia/ Yogi Anugrah)
Tak lama berbincang, kereta Sugeng pun tiba. Penumpang yang turun bisa dihitung jari. Sementara penumpang di dalam telah cukup ramai. Sugeng tak dapat tempat duduk. Namun, meski berdiri, ruang-ruang kosong masih terlihat.

Pun dengan tempat duduk yang tidak berpenghuni. Sejumlah kursi itu dibiarkan lowong untuk mengatur jarak antarpenumpang. Sesuatu yang mustahil terjadi di KRL pagi pada masa normal.

Kebijakan jaga jarak ini telah diterapkan sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menanggulangi penyebaran virus corona.

Pada hari-hari awal kebijakan ini memang tidak digubris. Para penumpang masih berdesakan di dalam KRL. Namun beberapa pekan terakhir ada perubahan berarti. Penumpang mulai menyesuaikan diri dengan peraturan. Saat ini, satu tempat duduk panjang yang biasanya diduduki lebih delapan orang, hanya dapat diisi oleh maksimum empat orang penumpang.

Setiap tempat duduk panjang itu telah diberi tanda atau marka untuk mengatur jarak. Sementara tempat duduk prioritas maksimum yang biasa diduduki empat hingga lima orang pada hari normal, sekarang diisi dua orang.

Penumpang yang berdiri juga tak lagi jubel-jubelan. Mereka berdiri dengan jarak sekitar satu meter.

Virus Corona di KRL

Kereta memang jadi lebih manusiawi. Meski demikian, kenyamanan Sugeng dan para penumpang lain bukannya tanpa risiko. Kereta api, terutama KRL Jabodetabek, termasuk salah satu tempat paling rawan penularan virus corona.

Dalam rapat virtual timwas Covid-19 DPR RI, Kamis (16/4) lalu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bahkan mengaku telah meminta Menteri Perhubungan ad interim saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk menghentikan sementara operasi KRL selama masa PSBB.

Keinginan Anies juga disuarakan sejumlah wali kota/bupati kawasan penyangga Bogor, Depok, dan Bekasi. Mereka sepakat mengusulkan pemberhentian operasional KRL.

Suasana di dalam KRL rute Bogor-Jakarta Kota, Senin (18/5) pagiPenumpang KRL rute Bogor-Jakarta Kota, Senin (18/5) pagi, cukup tertib menjaga jarak. (CNN Indonesia/ Yogi Anugrah)
Kekhawatiran para kepala daerah berdasarkan fakta. Pada Minggu (3/5), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkap ada tiga orang dari 325 penumpang KRL Jurusan Bogor-Jakarta yang diperiksa positif virus corona berdasarkan hasil tes swab PCR dengan metode sampling.

Sementara Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, pada Rabu (6/5), juga mengungkapkan tiga orang positif corona setelah menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Bekasi.

Hanya saja, fakta-fakta tersebut tak mempengaruhi kebijakan pemerintah yang tetap kukuh mengizinkan operasional KRL Jabodetabek.

Sugeng sendiri bukannya tidak khawatir. Di balik rautnya yang tenang, Sugeng menyimpan was-was tertular corona di KRL.

Akan tetapi Sugeng tak punya banyak pilihan. Termasuk memilih bekerja dari rumah (WFH) seperti para karyawan kantoran. Sebagai tukang service panggilan Sugeng mesti berhitung dengan kantong.

Baginya, WFH berarti tak kerja dan tidak bekerja berarti tidak dapat uang. Mau tak mau ia pun tetap menggunakan KRL untuk membantu mobilitasnya dalam bekerja.

"Takut (tertular) ya ada pasti, mas. Kita ya jaga diri sendiri. Pakai masker. Terus biasa sesekali cuci tangan di westafel yang ada di stasiun. Gak usah panik," katanya sambil membenarkan ransel yang kini tersangkut di dada.

Modal Masker Sambut New Normal

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2