SUDUT CERITA

Gusar Penumpang KRL Melihat Orang Lain Tak Patuh Jaga Jarak

CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2020 09:02 WIB
Penumpang memenuhi KRL Commuter Line  jurusan Bekasi dan Bogor di Stasiun Manggarai. Jakarta, Senin 13 April 2020. Pada hari ke-4 penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, penumpang KRL masih banyak yang berdesak-desakan. Ilustrasi penumpang KRL di tengah pandemi virus corona (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan masih menerima penumpang yang ingin menggunakan KRL di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Meski tak seramai biasanya, stasiun tersebut tetap saja kedatangan calon penumpang baru setiap waktu.

Saat CNNIndonesia.com berada di lokasi, setiap penumpang akan dicek suhu tubuhnya sebelum masuk ke gerbong. Petugas juga selalu mengingatkan protokol kesehatan yang harus dipatuhi, terutama menjaga jarak satu sama lain dan memakai masker.

Meski demikian, ada saja orang yang menganggap sepele protokol kesehatan yang diimbau petugas. Hal itu tentu membuat gusar mereka yang mematuhi protokol kesehatan agar terhindar dari virus corona.
Salah satunya adalah, Zainal (42) yang selalu cemas ketika naik KRL di tengah pandemi virus corona. Khawatir senantiasa hadir. Terutama ketika penumpang lain tidak mengindahkan imbauan petugas untuk menjaga jarak.


"Sudah ada petugasnya tapi tetap saja penumpangnya bandel," kata Zainal saat ditemui CNNIndonesia.com di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (13/5).

Zainal heran. Sudah hitungan bulan pemerintah mengimbau agar masyarakat berjaga jarak satu sama lain. Di berbagai tempat, petugas di lapangan pun kerap mengingatkan. Namun, selalu ada orang yang tidak menjaga jarak.
Zainal tahu akan selalu ada penumpang KRL yang tidak menjaga jarak dan membuat dirinya sendiri riskan tertular corona. Akan tetapi, Zainal tak punya punya banyak pilihan.

Dia tinggal di Citayam, Bogor dan bekerja di Jakarta. Moda transportasi yang paling ideal adalah KRL. Walhasil, Zainal harus melawan kecemasan itu setiap kali naik KRL.

"Khawatir sih pasti khawatir ya. Cuman mau bagaimana," katanya.

Zainal sendiri bekerja sebagai kurir pengantar barang di Jakarta. Seperti masyarakat umumnya, dia pun khawatir dengan pandemi virus corona. Alih-alih bekerja di rumah, profesi Zainal justru menuntutnya bertemu banyak orang.

"Saya juga kerjaannya sebagai kurir. Kalau enggak kerja keluarga nanti makan apa," keluhnya.
Tidak semua penumpang KRL mematuhi protokol kesehatan, sehingga membuat penumpang lain cemas tertular virus corona (CNNIndonesia/Safir Makki)Tidak semua penumpang KRL mematuhi protokol kesehatan, sehingga membuat penumpang lain cemas tertular virus corona (CNNIndonesia/Safir Makki)
Berbeda dengan Indah (25) warga Depok, Jawa Barat yang bekerja di Jakarta saat ditemui di Stasiun Gondangdia. Dia pun menggunakan KRL berangkat dan pulang kerja. Indah tampak lebih rileks ketimbang Zainal ketika harus bekerja di tengah pandemi virus corona.

Indah sendiri baru pekan ini bekerja kembali di kantor usai bekerja di rumah selama beberapa pekan.

"Ya kerja sajalah, daripada di PHK," kata Indah seraya tertawa.

Dia tak tahu pasti mengapa kantornya kembali memberlakukan kegiatan di kantor meski pandemi virus corona belum berakhir. Akan tetapi, Indah menduga itu berkaitan dengan pemerintah yang mengizinkan pegawai di bawah usia 45 tahun untuk kembali bekerja.
Diketahui, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengizinkan pekerja di bawah usia 45 tahun kembali bekerja demi pemulihan ekonomi.

Terlepas benar atau tidak, Indah merasa hanya cukup menjalankan kewajibannya, yakni bekerja ketimbang kena PHK.

"Mungkin karena pemerintah kan sudah bolehin warga di bawah 45 tahun untuk kembali bekerja," kata dia. (ndn/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK