Dari jumlah tersebut, 7.308 orang dinyatakan sembuh dan 1.613 orang lainnya meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu pada Maret 2020, jumlah kumulatif kasus positif virus corona baru menyentuh angka 1.528 kasus.
Sementara angka kematian akibat Covid-19 juga terus meningkat. Secara kumulatif, jumlah kasus meninggal dunia selama bulan Mei mencapai 821 orang.
Jumlah ini naik dari total kumulatif pada April 2020 sebanyak 656 kasus dan melonjak lebih dari 500 persen sejak angka kematian Maret 2020 sebesar 136 kasus.
Tercatat, DKI Jakarta masih menjadi provinsi tertinggi dengan kasus terbanyak secara nasional. Jumlahnya mencapai 7.348 kasus hingga 31 Mei kemarin. Disusul Jawa Timur sebanyak 4.857 kasus dan Jawa Barat dengan 2,260 kasus.
Penambahan kasus Covid-19 yang terus melonjak ini meleset dari prediksi sejumlah ahli.
Lembaga Biomolekuler Eijkman sebelumnya memprediksi kasus Covid-19 akan mulai turun pada akhir Mei seiring dengan lonjakan kasus selama Ramadan kemarin. Namun Direktur Eijkman Amin Soebandrio memberi catatan, kasus akan turun apabila masyarakat memang patuh pada protokol kesehatan.
Sementara dari luar negeri, Universitas Teknologi dan Desain Singapura (SUTD) memprediksi Covid-19 di Indonesia akan berakhir pada 3 Juni 2020. Hal itu berdasarkan hasil estimasi data yang diperoleh hingga 24 April 2020. Adapun puncak pandemi, SUTD memprediksi sudah terjadi sekitar tanggal 19-21 April 2020.
Sedangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru memprediksi puncak kasus positif virus corona terjadi pada awal Juni 2020.
Awal Mei lalu, Jokowi meminta penurunan kurva Covid-19 dapat tercapai pada Mei 2020 dengan cara apapun. Ia meyakini, jika berhasil menekan jumlah kasus pada Mei, pada Juni dan Juli jumlah kasus akan terus menurun.
"Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai. Sesuai target yang kita berikan yaitu kurvanya sudah harus turun dan masuk posisi sedang di Juni, di Juli masuk posisi ringan. Dengan cara apapun," katanya.
Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengaku sejak awal meragukan prediksi sejumlah ahli yang menyebut kasus Covid-19 di Indonesia akan berakhir Juni. Dicky menyebut berbagai prediksi maupun modeling itu tak bisa menjadi satu-satunya indikator penurunan kasus.
"Kalau sifatnya prediksi ini akan selesai Juni itu hal yang tidak mungkin karena virusnya saja bermutasi sangat cepat," ujar Dicky saat dihubungi, Senin (1/6).
Dicky mengatakan, jenis virus Covid-19 yang terbilang baru membuat para ahli kesulitan memprediksi waktu pandemi berakhir. Menurutnya, sejumlah prediksi itu hanya bisa menjadi salah satu acuan untuk menentukan strategi yang tepat dalam mengatasi Covid-19.
"Virus ini baru, masih banyak hal yang belum kita ketahui. Apalagi virus yang kita hadapi ini dinamikanya tinggi," katanya.
"Tidak bisa kita pastikan sampai ada obat definitif maupun vaksinnya," ujarnya.
Menurut Dicky, penemuan obat maupun vaksin untuk mengatasi Covid-19 pun tak mudah. Sebab, dengan gejala yang dihadapi penderita Covid-19 serupa flu bahkan tak bergejala, membuat obat yang diracik menjadi lebih kompleks.
Sementara dalam penemuan vaksin, juga diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama. Dicky mengatakan perlu berbagai tahapan hingga vaksin benar-benar dapat diedarkan karena harus melewati berbagai tahapan, seperti uji pemeriksaan hingga boleh didistribusikan.
"Kalau pun akhir tahun depan diproduksi, masih akan lama karena belum distribusinya, belum negosiasinya segala macam ini yang memerlukan waktu," katanya. (psp/fra)