Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih diberlakukan Pemda DKI Jakarta tak menghalangi minat masyarakat untuk "mencari keringat" bersama rekan atau keluarganya di tempat itu.
Ada yang datang untuk tujuan bersepeda, bermain sepatu roda, senam, sekadar jogging, berjalan santai atau berfoto. Namun, ada yang berbeda dibandingkan hari biasa; setiap orang mengenakan masker dan menjaga jarak dengan rombongan lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baru tahu kalau masih bisa masuk. Parkir di samping Hotel Mulya dan sepedaan ke sini. Mumpung masih libur, daripada di rumah enggak enggak olahraga," ucap Rully.
Sementara Rudi, pengunjung lain asal Cikini, Jakarta Pusat, mengaku masih rutin berolahraga di GBK selama PSBB. Kadang aktifitas itu ia lakukan bersama rekan satu kantornya, tapi seringkali hanya sendiri.
Dibandingkan hari-hari libur sebelum PSBB diberlakukan, aktivitas warga di GBK memang sepi bahkan nyaris tak dikunjungi warga sama sekali.
Pantauan Cnnindonesia.com , kawasan ini mulai ramai sekitar pukul 07.30 hingga pukul 09.30 WIB. Setelahnya, hanya satu-dua pengunjung yang datang dan sisanya mulai meninggalkan komplek GBK.
Petugas keamanan juga memperketat akses keluar masuk warga dengan melakukan pemeriksaan suhu di pintu masuk. Setiap orang diwajibkan mencuci tangan westfel yang sudah disediakan, sementara yang berkunjung secara rombongan diminta untuk mengisi data diri.
Sugeng, salah satu penjaja kuliner GBK mengaku mengalami penurunan pendapatan lantaran kompleks olahraga terpadu di Jakarta itu ditutup untuk berbagai event. Buka sejak pukul 07.00 hingga 18.00 WIB ia hanya meraup untung sekitar Rp100-150 ribu per hari.
Ia berharap komplek tersebut kembali dibuka seperti biasa saat new normal dan lebih banyak lagi warga kembali ke GBK untuk berolahraga. "Sore memang agak ramai, tapi, ya kalau hari libur aja. Orang juga ke sini kan bawa minum sendiri, jarang beli," keluhnya. (hrf/agt)