Pedagang Positif Corona, Pemkot Semarang Tutup Tiga Pasar

CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 05:35 WIB
Petugas medis bersiap melakukan tes diagnostik cepat COVID-19 (Rapid Test) di Pasar Sore Manukan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5/2020). Tes diagnostik cepat terhadap sejumlah pedagang di pasar itu guna mengetahui kondisi kesehatan mereka sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. Ilustrasi. Pengendalian virus corona melalui tes rapid. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga pasar di Kota Semarang ditutup sementara mulai Kamis (4/6) menyusul ditemukannya pedagang yang terjangkit virus corona dari hasil tes rapid dan swab yang digelar Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Ketiga pasar tersebut adalah Pasar Prembaen, Pasar Rasamala dan Pasar Burung Karimata. Penutupan sementara akan diberlakukan hari ini hingga 6 Juni 2020.
"Ada tiga pasar yang akan kita tutup sementara selama 3 hari, dari Kamis 4 Juni sampai Sabtu 6 Juni," ujar Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, kemarin.

"Selama tutup, kita akan lakukan penyemprotan desinfektan untuk menetralisir virus covid-19 karena ada temuan pedagang positif di masing-masing pasar," tambah Ita yang juga Wakil Wali Kota Semarang.


Sebelumnya, Pemkot Semarang melakukan penutupan terhadap Pasar Ikan Rejomulyo atau yang biasa disebut Pasar Kobong pada Sabtu (23/5) lalu menyusul hasil tes rapid dan swab yang mendapati hasil 21 orang pedagang positif corona.

Tak tanggung-tanggung, saat dilakukan penelusuran atau tracing hingga pemeriksaan, terdapat salah satu pedagang yang telah menularkan virus covid-19 ke keluarga dan tetangganya hingga berjumlah 11 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam menyebut beberapa pasar di Kota Semarang menjadi klaster corona dimulai saat hari-hari mendekati Lebaran di mana saat itu pasar dipadati warga yang berburu kebutuhan lebaran.

"Penularan bisa dari antarpedagang maupun dari pembeli, semua bisa, namanya juga pasar banyak orang. Dan kebanyakan statusnya Orang Tanpa Gejala atau OTG. Kondisi ini tidak disadari masyarakat yang mungkin meremehkan protokol kesehatan," kata Hakam. (dmr/ain)

[Gambas:Video CNN]