Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungbalai Karimun, Capt. Barlet Silalahi, mengatakan daerah itu merupakan merupakan area berbatu.
"Sudah saya tanya dari pelaksana survei dan menurut mereka bahwa daerah kandas bukan daerah terumbu karang, tapi daerah berbatu," ujar dia, dalam keterangannya, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KSOP Tanjungbalai Karimun juga telah melakukan koordinasi dan tindakan lainnya guna menjaga keselamatan pelayanan di perairan sekitar dan antisipasi pencemaran.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
"Survey under water juga sudah dilakukan dan kita sudah menetapkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam kegiatan salvage seperti kegiatan pemindahan bahan bakar, pemindahan muatan dan rencana pengapungan," terang dia.
Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan, Ahmad, mengatakan penanganan terhadap kandasnya MV Shahraz telah dilakukan sesuai dengan prosedur dan mengutamakan penyelamatan kapal yang terkena musibah.
"Intinya semua sudah dilaksanakan sesuai prosedur. Negara bendera sudah terinfo dan wakil IMO (International Maritime Organization) dari Iran juga sudah koordinasi demgan Kemenhub. Kemenlu juga sudah mengetahui. Singapura dan Malaysia sebagai tripartite state bersama Indonesia untuk Selat Malaka juga sudah terinfo sejak awal," katanya.
Sebelumnya, sejumlah pihak telah melakukan penyelidikan dengan mendatangi lokasi kejadian. Tim Basarnas juga hendak memgevakuasi 25 kru kapal yang diketahui merupakan Warga Negara Asing (WNA) asal Iran dan India. Namun, mereka masih enggan dievakuasi.
(dek/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi