PPDB DKI Zonasi RW, Orang Tua Keluhkan Tak Bisa Daftar

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 10:44 WIB
Ilustrasi website Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi bina Rukun Warga (RW) DKI Jakarta digelar hari ini, Sabtu (4/7), hingga pukul 16.00 WIB. Namun masih ada orang tua yang tetap tak bisa mendaftarkan anaknya.

Pasalnya, banyak rumah yang lokasinya tidak berada dalam satu RW dengan sekolah.

Hal ini misalnya dialami Ruddy, orang tua dari dua anak yang ingin masuk jenjang SMP dan SMA. Anaknya yang pertama berusia 15 tahun 11 hari, dan yang kedua 12 tahun 24 hari.


"Padahal SMA pilihan saya [jaraknya] hanya 150 meter [dari rumah]. Kalau ke SMP pilihan saya 270 meteran. Itu berada dalam satu jalan yang sama sekolahnya," tuturnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Rencananya, Ruddy ingin mendaftarkan anaknya ke SMAN 103 Jakarta dan SMPN 139 Jakarta. Kedua sekolah ini jaraknya paling dekat ke rumahnya.

Ia tinggal di RW 3, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit,  Jakarta Timur. Sedangkan kedua sekolah yang dituju berada di RW 4. Alhasil anaknya tak bisa ikut PPDB jalur zonasi bina RW.

Kedua anaknya juga tak lolos jalur zonasi dan prestasi yang digelar beberapa pekan lalu. Pada jalur zonasi keduanya terganjal usia, sedangkan di jalur prestasi nilai anaknya kalah dengan peserta lain.

Akibatnya Ruddy harus memutar otak agar kedua anaknya bisa tetap bersekolah. Padahal di tengah pandemi covid-19, keadaan ekonomi keluarganya cukup terdampak.

"Saya tidak mau anak saya cuti atau istirahat sekolah. Yang memungkinkan kita cari pinjaman ke bank, menjual aset, apapun itu agar anak bisa tetap sekolah," ujarnya.

Ia bercerita pengalaman mencari sekolah swasta tak semulus biasanya. Ini karena banyak anak lain yang berbondong ke sekolah swasta.

Di samping biaya sekolah swasta mahal, katanya, kini banyak sekolah yang ia dapati mengakali sistem seleksi. Misalnya dengan meminta biaya masuk sekolah dibayar dimuka, bahkan sejak pengambilan formulir.

"Ada beberapa sekolah swasta saat pengambilan formulir sudah minta DP [biaya masuk sekolah] dulu. Jadi bukan cuma biaya ambil formulir. Dengan alasan kalau enggak ambil hilang kapasitasnya," ungkap Ruddy.

Pengalaman serupa juga dialami Imran, orang tua dari anak yang ingin masuk SMA. Anaknya berusia 15 tahun 6 bulan dan tidak lolos jalur zonasi dan prestasi.

Namun ketika hendak mendaftar PPDB hari ini, ia tidak bisa mendaftar karena sekolah terdekat dari rumah berada di RW berbeda. Rumahnya berjarak 200 meter dari SMAN 8 Jakarta.

"Ini kan namanya jalur ini cuma mainan [Dinas Pendidikan DKI] aja. Seolah-olah mengikuti kemauan orang tua. Kita komplain buat apa ada ginian," ujarnya.

Jumlah RW di DKI Jakarta, katanya, jika dibandingkan dengan sebaran SMA negeri berbanding jauh. Sehingga menurutnya wajar banyak orang tua mengeluh tak bisa mendaftar karena tak ada sekolah di RW domisili.

Imran mengaku insiden banyak orang tua tak bisa daftar PPDB zonasi bina RW sudah ia duga sejak awal Disdik DKI berencana membuka jalur ini. Ia menilai langkah ini dilakukan tanpa perhitungan rinci, sehingga dampaknya juga tidak signifikan.

Menurut penelusuran CNNIndonesia.com, sekitar pukul 09.55 WIB seleksi pada sebagian besar SMA negeri pada jalur zonasi bina RW diisi peserta berusia 14 tahun sampai 16 tahun.

Kuota yang disiapkan tiap sekolah berbeda-beda. Misalnya SMAN 8 Jakarta membuka kuota untuk 17 siswa, SMAN 47 Jakarta 32 orang, SMAN 3 Jakarta 7 siswa, dan SMAN 70 Jakarta 6 siswa.

Jalur zonasi bina RW sendiri dibuka Dinas Pendidikan DKI untuk merespon protes peserta PPDB yang tidak lolos jalur zonasi dan prestasi.

Pada jalur ini peserta hanya bisa memilih sekolah di RW domisilinya. Juga hanya lulusan tahun ajaran 2019/2020 yang bisa mengikuti jalur ini.

(fey/stu)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA