Menko PMK Tak Mau Jatim Ulang Sejarah Wabah Flu Spanyol

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 06:32 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy memebrikan keterangan di Istana, Senin (22/6) Menko PMK Muhadjir Effendy menyatakan pemerintah mewaspadai virus corona di Jatim agar tak mengulang sejarah Flu Spanyol menjadi provinsi tertinggi penyebaran wabah.. (Rusman-Biro Setpres).
Surabaya, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah kini berusaha keras untuk menekan angka kasus penyebaran virus corona (Covid-19) di Provinsi Jawa Timur.

Ia menyinggung wabah virus Flu Spanyol yang pernah mengguncang Indonesia atau yang kala itu masih bernama Hindia Belanda, seabad silam. Saat itu, kata Muhadjir, Jatim merupakan daerah dengan jumlah kasus penularan Flu Spanyol terbanyak di Indonesia.

"Ternyata dulu 1918 waktu terjadi wabah Flu Spanyol, Jawa Timur memang angka tertularnya paling tinggi di Indonesia," kata Muhadjir, saat melakukan kunjungan kerja di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (5/7).


Tak hanya penularan, jumlah kematian akibat Flu Spanyol di Jatim juga merupakan yang tertinggi seantero Hindia Belanda. Namun Muhadjir tak merinci berapa banyak nyawa yang melayang akibat wabah itu.

"Angka tertinggi Flu Spanyol yang sampai sekarang tidak ketemu vaksinnya itu dulu korban tertinggi adalah di Jatim," katanya.

Ia mengatakan, hal tersebut harus diwaspadai bersama di masa pandemi corona sekarang ini. Muhadjir tak ingin sejarah kelam tersebut terulang kembali di provinsi paling ujung Pulau Jawa ini.

"Ini yang harus kita waspadai, jangan sampai tahun 1918 artinya berarti 100 tahun yang lalu, terulang di Jatim," ujarnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini juga tak mau jika Jatim seolah menjadi daerah sebaran terparah setiap ada wabah melanda. Hal itu, menurutnya harus dihindari.

"Ini jangan sampai preseden seolah-seolah Jatim menjadi langganan (wabah) korban tertinggi di Indonesia, saya kira ini harus kita hindari betul," pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, per Minggu, kasus kumulatif corona di Jatim merupakan yang tertinggi di Indonesia. Dengan rincian 14.031 positif, 4.892 sembuh dan 1020 meninggal dunia.

Jumlah kasus di Jatim bahkan kini melebihi DKI Jakarta. Dengan rincian 12.435 positif, 7.663 sembuh dan 649 kasus meninggal dunia.

Pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19) sudah berlangsung sejak November 2019 sampai hari ini. Sebelum virus ini masuk, Indonesia juga sempat diguncang virus Flu Spanyol yang merenggut nyawa jutaan orang sejak Maret 1918 sampai September 1919.

Menurut lembaga Layanan Kesehatan Masyarakat (Burgerlijke Geneeskundige Dienst/BGD) pada zaman kolonial yang menghimpun data pandemi Flu Spanyol 1918 hingga 1919 di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), virus Flu Spanyol dinilai sangat berbahaya.

Saat itu, salah satu anggota BGD adalah pendiri Palang Merah Indonesia, Dr. Sardjito. BGD melakukan survei terhadap 83 praktisi medis di seluruh wilayah Indonesia. Sardjito
dan tim juga menganalisis data kematian terdaftar yang dilaporkan tiap kecamatan.

Dikutip dari laman situs The Conversation, berdasarkan laporan BDG, laporan tersebut menunjukkan bahwa kasus Flu Spanyol pertama kali dilaporkan pada Juli 1918 namun baru terdeteksi pada September 1918. Sementara puncaknya pada akhir November 1918.

Laporan selanjutnya menunjukkan bahwa tingkat kematian menurun cepat usai November 1918 tetapi ada kemungkinan virus kembali muncul di tingkat daerah.

Selain itu menurut laporan BDG, dampak pandemi itu tersebar tidak merata di berbagai kecamatan di Jawa. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan kota-kota di Jawa Barat saat itu menjadi daerah yang paling terdampak.

Tingkat kematian Flu Spanyol di Indonesia tahun 1918 menurut data, menyentuh persentase 35 persen. Dengan menggunakan angka kematian di atas rata-rata mingguan dan data jumlah populasi, angka kematian diperkirakan dari September 1918 hingga September 1919 berjumlah 906 ribu di Pulau Jawa.

Data tersebut juga disandingkan dengan data kualitatif yang menunjukkan persentase kematian yang sama. Artinya, total kematian sekitar 1,3 juta atau 2,5 persen dari jumlah populasi Indonesia waktu itu yakni 53 juta orang.

(frd/osc)

[Gambas:Video CNN]