Gugus Sebut Tak Ada Warga Bandung Tertular Klaster Secapa AD

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 18:00 WIB
Dua orang paramedis saling membantu dalam mengenakan pakaian dan alat pelindung diri (APD) sebelum bertugas menangani pasien COVID-19 di Ciputra Hospital, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Ciputra Group melalui Ciputra Hospital Citra Garden City Jakarta  dan Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang mulai Jumat (1/4/2020) mengoperasikan ruang isolasi berkapasitas 210 tempat tidur untuk menangani pasien COVID-19 sebagai bentuk aksi Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat dan dukungan kepada pemerintah dalam melawan COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww. Ilustrasi penanganan pasien virus corona. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kota Bandung, Ema Sumarna memastikan tak ada warga menjadi positif karena tertular dari klaster baru Secapa TNI AD.

Seperti diketahui dua klaster baru di Jawa Barat yakni kawasan industri di Kabupaten Bekasi dan institusi pendidikan kenegaraan di Bandung raya. Belakangan diketahui salah satu institusi tersebut ialah Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD.

"Kalau itu (kasus positif) di sana tidak ada warga Kota Bandung, itu tidak bisa masuk ke warga Kota Bandung," ujar Ema, Kamis (9/7).


Sehingga, lanjut Ema, data angka kasus Covid-19 di Kota Bandung tidak serta merta naik karena ada klaster baru tersebut.

"Tidak berdasarkan kejadian atau lokasi, nanti akan ditelusuri secara administrasi," ucapnya.

Lebih jauh Ema menuturkan data kasus di Secapa TNI AD kemungkinan akan diinput ke data pusat. Sampai saat ini, kata dia, penanganan klaster tersebut tidak ditangani Dinas Kesehatan Kota Bandung.

"Mereka punya otoritas ingin ditangani oleh tenaga medis mereka," tegasnya.

Ema mengaku sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan apakah ada warganya yang terkonfirmasi positif corona atau tidak dari klaster tersebut.

"Kita tidak tahu sekarang apakah kasus itu ada orang Bandung atau tidak," ucapnya.

Warga Sekitar Tolak Rapid Tes

Sementara itu, Ema mengakui ada sebagian warga yang berdomisili di sekitar Secapa TNI AD menolak menjalani rapid test atau tes cepat. Menurut dia, baru sekitar 28 orang yang menjalani tes cepat, dan sisanya ada yang menolak.

Menurut Ema, warga yang menolak tersebut kemungkinan khawatir terdampak.

"Mungkin mereka parno atau takut atau apa untuk diperiksa," ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung belum memberlakukan pembatasan terhadap aktivitas masyarakat dan perekonomian di sekitar Secapa AD.

Wali Kota Bandung Oded M Danial menyatakan pihak Gugus Tugas bakal terus berupaya melakukan pelacakan dan pemeriksaan terhadap masyarakat kawasan Kecamatan Cidadap.

"Saya minta untuk mengamankan masyarakat sekitar, untuk dilacak dan Puskesmas juga untuk mengawasi," kata Oded.

(hyg/ain)

[Gambas:Video CNN]