Wali Kota Sebut Solo Zona Hitam Covid Agar Masyarakat Waspada

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 07:51 WIB
Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo diambil sampel darahnya untuk diuji cepat Covid-19, Rabu (27/5). Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. ((CNN Indonesia/Rosyid).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan alasan pihaknya menggunakan istilah zona hitam virus corona. Meski pada kenyataannya Solo belum masuk kategori zona hitam Covid-19.

"Ini belum. Zona hitam kalau 60 persen (dari total warga Kota Solo terinfeksi Covid-19)," kata Hadi di Solo, Senin (12/7) dikutip dari Antara.

Hadi menyebut penggunaan zona hitam di Solo tidak berlebihan. Sebab dengan penyebutan zona hitam pihaknya berharap masyarakat selalu waspada dan mengikuti protokol kesehatan setiap beraktivitas, termasuk selalu menggunakan masker.


"Ya, tidak berlebihan (istilah tersebut), zona hitam ini agar masyarakat lebih waspada. Biasanya kan tambahannya 1-2, ini tiba-tiba 18," katanya.

Sebelumnya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengonfirmasi, sebanyak 25 mahasiswa yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD dr Moewardi positif Covid-19.

Berdasarkan data, sebagian di antaranya ber-KTP Solo. Selain penambahan jumlah kasus dari tenaga kesehatan, terdapat pula kasus lain dari masyarakat umum, salah satunya pedagang di Pasar Harjodaksino.

"Kalau dari pihak RSUD, untuk komunikasi baru kita panggil (pihak RSUD), tetapi kami minta izin dulu ke Gubernur karena itu punyanya Pak Gubernur (Pemprov Jateng). Kami minta izin untuk memperlancar komunikasi, tidak perlu ada istilahnya laporan terlambat, ditutupi, susah dihubungi," kata Hadi.

Ia berharap komunikasi antara Pemerintah Kota Surakarta dengan RSUD dr Moewardi terjalin dengan baik.

"Karena kita ini gotong-royong. Perkara dr Moewardi yang mengurusi adalah provinsi tetapi berada di wilayah Solo. Kalau dikatakan zona hitam, ya, benar. Semua ngebyuk (pasien Covid-19) di Solo," katanya.

Terkait hal itu, ia meminta agar pihak RSUD dr Moewardi setiap hari selalu memberikan laporan kepada Dinas Kesehatan Kota Solo.

"Jam 12.00 WIB beri laporan ke Dinas Kesehatan, baru kemudian diinfokan ke lurah-lurah," katanya.

Sementara itu, sebagai tindak lanjut, pihaknya akan melakukan penyemprotan disinfektan di wilayah dengan tingkat risiko penyebaran lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Solo, di antaranya Jebres dan Mojosongo.

Pada kesempatan itu ia juga menampik beberapa daerah dikatakan sebagai zona merah karena jumlah kasus yang tergolong rendah.

"Indikator zona merah minimal 1 persen dari jumlah penduduk. Mojosongo hampir 70.000 warga, kena lima. Masih jauh dari zona merah atau hitam," katanya.

(Antara/osc)

[Gambas:Video CNN]