141 Klaster Virus Corona di Jatim Didominasi Transmisi Lokal

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 13:50 WIB
Petugas kesehatan menggunakan alat rapid diagnostic test Corona RI-GHA COVID-19  di ruang Heritage, Kemenko PMK, Jakarta. Kamis (9/7/2020). CNN Indonesia/Andry Novelino Ilustrasi pemeriksaan virus corona. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah menyebut ada 141 klaster penularan virus corona di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Berdasarkan analisis tim di lapangan, klaster didominasi transmisi lokal.

"Terkait analisis data klaster yang ada di Jatim, per 7 Juli 2020 total ada 141 klaster dengan 2004 kasus, dari jumlah kasus itu paling banyak ditemukan local transmission," kata Dewi di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (15/7).

Penularan lokal transmisi memiliki arti sebuah kelompok masyarakat dalam satu area yang sama, tanpa ada riwayat bepergian ke daerah terdampak Covid-19, tiba-tiba ditemukan banyak kasus terkonfirmasi positif lewat pemeriksaan laboratorium. Bisa jadi ada satu orang positif Covid-19 yang kemudian menularkan dalam satu wilayah.


"Ini yang harus kita waspadai jangan sampai terjadi, itulah mengapa isolasi mandiri penting. Ketika sudah ada kontak dengan orang positif, pastikan isolasi mandirinya berjalan," ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dewi menjelaskan pasar dan tempat kerja menjadi klaster yang harus diwaspadai. Di Jatim, pasar menyumbang 31 klaster dengan 199 kasus, sementara tempat kerja menyumbang 20 klaster dengan 272 kasus.

Ia menduga angka kasus dalam klaster tersebut bisa bertambah jika dilakukan pemeriksaan laboratorium kepada warga setempat atau pedagang, terutama untuk klaster pasar tradisional.

"Pasar ini potensi penularannya luar biasa, klaster pasar ada 199 kasus, bisa jadi karena belum semuanya diperiksa, saya ingatkan lagi, pasar ini tinggi penularannya karena sulit menjaga jarak," ucapnya.

Kemudian untuk klaster di tempat kerja, jika dibandingkan dengan klaster pasar angka kasus di klaster ini lebih tinggi, yakni 272 kasus. Dewi mengartikan kondisi ini sebagai penularan yang lebih tinggi.

"Di tempat kerja ada 20 klaster sampai 272 kasus, lebih tinggi dari pasar secara jumlah kasus tapi klasternya lebih sedikit, artinya penularannya lebih tinggi," jelasnya.

Lebih lanjut, ahli epidemiologi tersebut mengatakan jika dilihat dari laju insidensinya, maka Kota Surabaya mencatat yang tertinggi di banding daerah lainnya di Provinsi Jatim.

Laju insidensi sendiri dapat diartikan sebagai angka penambahan kasus baru yang di dapat dari suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Menghitung laju insidensi dengan cara membagi angka kasus yang ditemukan dengan jumlah penduduk dan dikalikan seratus ribu.

"Kalau kita lihat angka di Surabaya menunjukan angka penambahan tinggi, laju penularan tinggi, kasus fatalitasnya tinggi, Kota Surabaya masih menempati peringkat pertama di Jatim dengan laju insidensi 250/100 ribu penduduk, angka kematian 22/100ribu penduduk, ini harus dijaga benar-benar," jelas Dewi.

Untuk diketahui, secara akumulatif kasus kematian di Jatim merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Laporan Gugus Tugas Covid-19 mencatat sebanyak 1.247 kasus kematian per Selasa (14/7).

Menurut data https://infocovid19.jatimprov.go.id/ Kota Surabaya tercatat menjadi daerah dengan jumlah kasus konfirmasi positif tertinggi di Jatim, sebanyak 7.255, kasus meninggal 622 orang, sembuh 3.580, sementara 3.053 masih dalam perawatan.

(mel/osc)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK