Gugas Luwu Utara Waspada Klaster Relawan dan Pengungsi Banjir

CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2020 02:19 WIB
Sejak hari pertama setelah banjir di Luwu Utara, relawan dan bantuan terus berdatangan, sementara pengungsi banyak berkumpul tanpa menjaga jarak. Ilustrasi pengungsi korban banjir di Luwu Utara, Sulsesl. (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE).
Makassar, CNN Indonesia --

Jumlah pengungsi korban bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan tercatat 14 ribu orang lebih, tersebar di 69 lokasi pengungsian. Gugus Tugas Covid-19 Luwu Utara mewaspadai munculnya klaster baru virus corona dari relawan maupun pengungsi.

Hal ini lantaran sejak hari pertama setelah kejadian Senin (13/7) lalu, bantuan dan relawan, baik atas nama pemerintah maupun non pemerintah, terus berdatangan.

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Luwu Utara, Komang Krisna yang dikonfirmasi, Rabu, (22/7) mengatakan, dari awal bencana, pihaknya sudah waspada mengenai penularan Covid-19 karena semua relawan yang datang, ada yang berasal dari daerah zona merah, daerah resiko tinggi dan sedang.


"Terus terang secara pribadi, saya takut jangan sampai muncul klaster baru. Klaster pengungsi atau klaster relawan," kata Komang.

Hari pertama pasca bencana hingga hari ketiga, kata Komang, boleh dikata bantuan dan relawan tak terbendung. Akan tapi di lain sisi, Luwu Utara tidak bisa menutup diri karena itu semua dibutuhkan.

Yang dilakukan pihaknya, kata Komang, antara lain mendata relawan yang masuk, meski tetap ada yang tidak terpantau karena ada yang langsung masuk ke lokasi pengungsian.

Gugas juga meminta relawan menunjukkan surat keterangan bebas covid-19 dan bagi yang tidak memiliki diminta memeriksakan diri ke Tim Gerak Cepat (TGC). Tapi hal itu tidak bisa dipaksakan.

"Jadi yang bisa dilakukan adalah mengharapkan kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan. Hal ini telah disampaikan sejak hari ke 5 pasca bencana," katanya.

Bukan hanya relawan, kondisi pengungsi yang berkumpul di posko juga sangat mengkhawatirkan karena rawan penularan Covid-19. Sangat sulit untuk menerapkan protokol jaga jarak.

Karenanya, masker menjadi salah satu bantuan yang paling dibutuhkan. Karena saat ini masih kekurangan.

Sementara itu, Ketua BPBD Luwu Utara, Muslim Mukhtar menambahkan persoalan relawan dan potensi klaster baru kasus corona di pengungsian ini menjadi dilema.

"Ini berat bagi kami. Kalau diperketat orang masuk, itu akan mengurangi empati masyarakat ke Luwu Utara. Sementara diketahui, masyarakat khususnya masyarakat Sulsel tinggi jiwa kekeluargaannya dan semangat saling bantu," kata Muslim Mukhtar.

Tapi, kata Muslim, sementara ini yang dilihat, para relawan cukup patuh terhadap protokol kesehatan. Mereka mengenakan masker, hand sanitizer, kaos tangan, bahkan ada yang bawa bantuan masker.

Tapi soal bantuan yang dibawa, kata Muslim, juga jadi perhatian. Jika bantuan itu disemprot disinfektan, dikhawatirkan ada ketersinggungan.

"Ini problem yang kami hadapi jadi diharapkan adalah kesadaran baik dari relawan maupun pengungsi untuk mematuhi protokol kesehatan. Dan kita kembalikan sama Yang Di Atas," katanya.

(svh/osc)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK