Satgas Covid-19 Ingatkan Pernah Ada Pandemi Selama 43 Tahun

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 15:47 WIB
Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengingatkan pernah ada pandemi The Modern Plague berlangsung selama 1860-1903. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengingatkan pernah ada pandemi yang berlangsung selama 43 tahun di masa silam (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan tak ada yang bisa memprediksi akhir dari pandemi virus corona (Covid-19). Akan tetapi, dia mengingatkan pernah ada pandemi yang berlangsung selama 43 tahun di masa silam.

"Wabah the modern plague kurang lebih 10 juta kematian dan berlangsung 43 tahun, 1860-1903," kata Wiku saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (4/8).

Pandemi virus corona sendiri sejauh ini telah menyebabkan 693.713 orang meninggal dunia di berbagai belahan dunia. Ada 18.278.448 orang di muka bumi yang positif terinfeksi.


Menurut Wiku, ketimbang bertanya kapan pandemi akibat corona berakhir, lebih baik masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker hingga rajin mencuci tangan.

"Jangan tanyakan kapan pandemi akan Berakhir, tapi tanyakan pada diri kita kapan bisa disiplin pakai masker jaga jarak dan cuci tangan," katanya.

Di kesempatan yang sama, Wiku juga menjelaskan beberapa wabah lain yang pernah terjadi di masa lalu. Durasi dan jumlah kematian akibat pandemi berbeda-beda.

Misalnya, pandemi Black Death yang berlangsung selama 16 tahun pada tahun 1334-1350. Jumlah kematian mencapai 30 hingga 50 juta jiwa.

Ada pula pandemi yang cenderung singkat, yakni Russian Flu yang berlangsung hanya selama setahun pada 1889-1890. Angka kematian kurang lebih mencapai 1 juta jiwa.

Flu Spanyol termasuk wabah yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Ada 50-100 juta orang meninggal dunia akibat wabah tersebut yang berlangsung pada tahun 1918-1919.

"Dari sejarah pandemi, lama waktu wabah cukup bervariasi tergantung sumber wabah," kata Wiku.

Terpisah, sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning mengatakan bahwa wabah virus corona tak berbeda jauh dengan Flu Spayol. Karenanya, pemerintah Indonesia mesti memberikan sosialisasi masif kepada publik tentang bahaya virus corona.

Dia menjelaskan kala itu Pemerintah Hindia Belanda memberikan imbauan seperti penggunaan masker dan tetap tinggal di rumah atau mengurangi kegiatan di area publik.

Selain melalui kampanye tersebut, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan buku literasi berjudul "Lelara Influenza" (Penyakit Influenza), yang kemudian dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan oleh campur tangan dalang.

Dahulu, banyak pula masyarakat yang cenderung meremehkan bahaya flu Spanyol meski imbauan sudah disampaikan berulang kali. Dia berharap semua pihak belajar dari apa yang terjadi di masa lalu.

"Mereka masyarakat melihat, bahwa sumber penyakit ini adalah dari alam. Dari debu, dari angin, dan sebagainya. Sementara pemerintah melihatnya, pihak pemerintah Belanda dalam hal ini ini adalah dari luar. Pendatang yang datang ke Indonesia itu membawa, atau carrier," ungkap Tri.

"Masalah lalu itu bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi marilah kita melangkah dengan kearifan masa lalu," tambahnya.

(mln/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK