Nadiem: 88 Persen Daerah 3T di Zona Hijau dan Kuning

CNN Indonesia | Minggu, 09/08/2020 09:58 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim menyatakan 88 persen daerah tertinggal, terdepan, dan terluar berada di zona kuning dan hijau, bisa mulai belajar tatap muka. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan 88 persen daerah tertinggal, terdepan, dan terluar berada di zona kuning dan hijau. Jika memenuhi syarat yang ditentukan daerah tersebut bisa memulai pembelajaran tatap muka di tengah pandemi virus corona.

"88 persen daerah 3T di Indonesia yang sangat sulit melakukan PJJ (pembelajaran jarak jauh) itu ada di zona kuning dan hijau," ujarnyanya melalui rekaman video, Sabtu (8/8).

Ia mengatakan dengan kebijakannya ini, daerah yang tidak bisa melakukan PJJ dapat kembali mengejar ketertinggalan dari sisi pembelajaran.


Namun begitu, Nadiem mengingatkan pembelajaran tatap muka harus mengedepankan protokol kesehatan yang ketat. Ketentuannya beragam, mulai dari pemangkasan jumlah siswa hingga setengah kapasitas kelas, dan meminimalisir kontak warga sekolah.

"Jadi harus melakukan rotasi shifting [jadwal masuk] semua sekolah ini. Dan tidak ada aktivitas kantin, berkumpul, ekskul yang akan ada risiko interaksi antar masing-masing rombongan belajar," ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan keputusan membuka sekolah harus disetujui komite sekolah yang merupakan perwakilan orang tua. Jika komite sekolah menyetujui namun orang tua secara pribadi tidak ingin anaknya masuk sekolah, siswa masih bisa melakukan PJJ.

Hal ini juga diungkapkan Nadiem ketika pertama kali mengumumkan pembukaan sekolah di zona hijau. Namun kebijakannya sempat dikritik sejumlah pihak karena dinilai tidak efektif pada praktiknya.

Sejumlah guru mengatakan keterbatasan sumber daya tidak memungkinkan guru mengajar siswa secara tatap muka dan daring sekaligus. 

Sedangkan PJJ sendiri masih mengalami kendala meski sudah memasuki tahun ajaran baru. Di daerah terpencil, guru banyak mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah dalam membimbing jalannya PJJ.

"Kita masih bingung ini gimana cara mengajar dengan keterbatasan yang kami miliki," ujar Adimo, Guru SD Negeri 08 Benua di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/7).

Keputusan Nadiem mulai membuka sekolah di zona kuning pun dinilai berisiko bagi warga sekolah. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Retno Listyarti khawatir hal ini dapat meningkatkan potensi penularan virus.

"Artinya, kalau ada 1 siswa terinfeksi maka 30 siswa lain harus di tes. Kalau belum terbukti terinfeksi Covid 19, maka biaya tes tidak ditanggung pemerintah pusat. Jadi, kalau pas buka sekolah dan ternyata ada kasus Covid-19, siapakah yang akan menanggung biaya tes," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).

(fey/dea)

[Gambas:Video CNN]