Tentang Bajo, Penjahit-Guru Las Penantang Gibran di Solo

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 06:15 WIB
Bagyo Wahyono dan FX Supardjo adalah warga biasa, tapi berani maju di Pilkada Solo melawan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming. Pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo atau Bajo bakal melawan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming di Pilkada Solo (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Solo, CNN Indonesia --

Pasangan Bagyo Wahyono dan FX Supardjo (Bajo) bakal meramaikan Pilkada Kota Solo 2020. Mereka menjadi sorotan karena akan menantang putra Presiden Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka yang berpasangan dengan Teguh Prakosa.

Mulanya, tak sedikit yang mengira Gibran bakal melawan kotak kosong karena mendapat dukungan dari mayoritas partai politik. Namun, Bajo muncul lewat jalur independen usai berhasil mengumpulkan lebih dari 38 ribu E-KTP dari warga.

Bagyo Wahyono dan FX Supardjo bukan tokoh politik. Wajar jika nama mereka melambung mendadak hingga menjadi pembicaraan publik. Bagyo adalah tukang jahit, sementara Supardjo sehari-hari mengajar teknik mengelas.


Hidup Sebagai Penjahit

Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Bagyo mengaku sehari-hari bekerja sebagai desainer dan penjahit di Solo. Profesi itu sudah ia jalani selama 30 tahun. Baju yang hasil desain-nya bisa ia jual di kisaran harga Rp5-50 juta.

"Tapi banyak orang mengatakan saya penjahit. Di Solo kan orang kalau bilang, 'njahitke ke tempate Pak Bagyo wae'," kata Bagyo saat bertemu CNNIndonesia.com, Jumat pekan lalu (11/9).

"Kebetulan di sini memang khusus merancang baju manten, baju pesta," imbuhnya.

Mulanya, banyak yang tidak percaya dan memandang sebelah mata. Termasuk keluarganya sendiri. Akan tetapi, bermodal dukungan dan tekad, Bagyo tetap berani mencalonkan diri sebagai calon wali kota.

"Banyak yang tidak percaya. Bapak itu kan wong bodo. Artinya enggak ngerti tentang politik, enggak ngerti tentang birokasi. Kowe ki ngawur Pak. Awalnya seperti itu," kata Bagyo menceritakan tanggapan keluarganya saat itu.

Selain di kalangan penjahit, Bagyo juga mengaku banyak bergaul di kalangan seniman. Kenalan di kalangan seniman tak lepas dari riwayat bapak dan ibunya dahulu.

Bapak Bagyo dulu sering menjadi wayang orang sriwedari. Ibu Bagyo adalah pesinden keraton dan juga sering menjadi wayang sriwedari.

Kelompok seniman itu sangat mendukung Bagyo. Mereka termasuk kelompok yang giat mencarikan dukungan E-KTP untuk Bagyo agar bisa mendaftar lewat jalur independen.

"(Kelompok) Seni budaya semua kenal saya. Di luar itu pun teman saya luas. Di politik ya saya kenal, teman saya pengacara ya banyak kenal, dprd ya banyak kenal. Solo kan kecil," kata Bagyo.

Pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo Bagyo Wahono (kiri) dan FX Supardjo (kanan) menaiki kuda menuju kantor KPU Solo untuk melakukan pendaftaran Pilihan Wali Kota (Pilwakot) 2020 di Solo, Jawa Tengah, Minggu (6/9/2020). Pasangan Bagyo Wahyono dan FX Supardjo alias Bajo resmi mendaftarkan diri sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali kota Solo pada Pilkada 2020 mendatang melalui jalur perseorangan atau non partai, keduanya akan berhadapan dengan pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang telah mendaftar sebelumnya. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/foc.Pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo Bagyo Wahono (kiri) dan FX Supardjo (kanan) menaiki kuda menuju kantor KPU Solo Minggu (6/9/2020).

Biasa Melayani Warga

FX Supardjo memiliki latar belakang kehidupan yang kurang lebih sama seperti Bagyo, yakni bukan tokoh politik. Akan tetapi, dia bakal dihadapkan pada kontestasi politik sebagai bakal calon wali kota Solo mendampingi Bagyo.

FX Supardjo mengaku sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta. Dia mengajar di sebuah lembaga pelatihan. Banyak anak muda yang dia bekali modal untuk

"Mengelas. Lembaga pelatihan spesialis pengelasan," kata Supardjo.

Seperti halnya Bagyo, keluarga Supardjo pun mulanya heran. Bagaimana mungkin Supardjo yang bukan siapa-siapa berani menantang putra Presiden di Pilkada Solo. Keluarga sempat tidak yakin dengan niat Supardjo.

"Saya sendiri merasa saya itu orang kecil, bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Saya sendiri hanya karyawan di lembaga pelatihan. Dan Pak Bagyo sebagai penjahit. Apalagi sekarang ini saya sebagai Ketua RW. Ketua RW kan hanya pelayanan saja. Tidak ada gajinya," kata Supardjo.

Selain mengajar dan menjadi ketua RW, Suparjo juga tergabung dalam Paguyuban Langen Marsudi Budaya di Karangasem. Perkumpulan itu mengurusi dan memelihara kebudayaan, Jawa khushusnya mengenai Macapat, yakni tembang atau puisi tradisional Jawa.

Di lingkungan pegiat Macapat itu pula, pasangan Bajo sudah mendapat dukungan sejak niat ikut Pilkada SOlo sampaikan pada Mei 2019 lalu. Mereka katanya, membantu mengumpulkan KTP dari kerabat mereka, seperti keluarga dan tetangga.

Suparjo pun aktif di organisasi Tikus Pithi Hanata Baris (TPHB). Tikus Pithi adalah ormas yang mendorong Bajo-sebutan untuk Bagyo dan Suparjo-maju melawan Gibran di Pilkada.

Bagyo dan Supardjo sama-sama mengakui peran penting Ketua Tikus Pithi, Tuntas Subagyo dalam pencalonannya di Pilkada Solo. Dukungan dan motivasi terus diberikan oleh Tuntas.

Ke depannya, Supardjo tidak cemas dengan apa yang harus dilakukan jika terpilih menjadi kepala daerah. Dia merasa tugas utama kepala daerah adalah melayani, sehingga sama dengan tugasnya selama ini sebagai ketua RW.

"Artinya di pekerjaan sehari-hari sebagai pelayan, di masyarakat sebagai pelayan, di gereja juga sebagai pelayan," kata Suparjo.

(syd/thr/bmw)

[Gambas:Video CNN]