FSGI Ragukan Sejumlah Aplikasi Kuota Belajar Kemendikbud

CNN Indonesia | Minggu, 27/09/2020 16:55 WIB
FSGI mengungkapkan ada sejumlah aplikasi yang memenuhi kapasitas dari kelima aplikasi itu justru tak bisa digunakan siswa dengan kuota belajar dari Kemendikbud. FSGI menyebut 5 aplikasi kuota belajar Kemendikbud tak kredibel. Ilustrasi (CNNIndonesia/SafirMakki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meragukan sejumlah aplikasi yang bisa dimanfaatkan siswa dengan menggunakan kuota belajar gratis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) FSGI, Fahriza Marta Tanjung menduga Kemendikbud menjalin kerja sama dalam program tersebut hanya untuk memberi keuntungan kepada sejumlah pengembang aplikasi kuota belajar.

"Kami mencoba melakukan penelusuran terhadap 19 aplikasi pada kuota belajar. Kami menemukan bahwa aplikasi patut itu diragukan kapasitasnya," kata Riza dalam konferensi daring membahas kuota belajar, Minggu (27/9).


Penilaian Riza terhadap lima aplikasi tersebut berdasarkan dua kriteria, jumlah download dan waktu pembaruan aplikasi di playstore.

Aplikasi kuota belajar Aminin misalnya. Berdasarkan penelusurannya per tanggal 26 September, aplikasi itu hanya didownload tak lebih dari 1.000 kali. Kemudian AyoBlajar didownload tak lebih dari 5.000 kali dengan penilaian 4,6/5,1.

Kemudian aplikasi Birru yang didownload baru 100 kali. Aplikasi itu dikembangkan Natieva Global Inc untuk belajar bahasa Inggris.

Selanjutnya, aplikasi Eduka dengan pengembang Media Eduka, dan Ganeca Digital yang dikembangkan Ganeca Digital. Masing-masing aplikasi per tanggal 26 September baru didownload sekitar 1.000 kali.

"Artinya ketika penentuan aplikasi ini menjadi aplikasi yang berada pada kuota belajar kami melihat bahwa aplikasi ini baru dibangun. Jadi patut dipertanyakan kenapa aplikasi yang baru dibangun itu bisa masuk pula pada aplikasi kuota belajar," kata Riza.

Riza lantas menyorot keberadaan aplikasi Eduka yang terakhir diperbarui pengembang pada 19 Oktober 2019 atau hampir setahun sebelum aplikasi ini resmi ditunjuk oleh Kemendikbud.

"Dari beberapa 19 yang ada itu, ada aplikasi yang kapasitasnya patut diragukan. Ini berpotensi sia-sia ketika aplikasi ini dimasukkan pada kuota belajar," ujarnya.

Lebih lanjut, Riza menyebut ada sejumlah aplikasi yang memenuhi kapasitas dari kelima aplikasi itu justru tak bisa digunakan siswa dengan kuota belajar dari Kemendikbud.

Beberapa di antaranya adalah Kipin School yang telah diunduh lebih dari 100 ribu kali dan Quipper yang diunduh lebih dari 1 juta kali.

Riza juga mempertanyakan ada sejumlah aplikasi justru tidak dimasukkan dalam program tersebut. Misalnya Kelas Pintar yang telah diunduh lebih dari 1 juta kali justru tak dipilih masuk dalam program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

"Nah, tentunya dengan kondisi ini kami menyayangkan bahwa banyak aplikasi yang terfasilitasi di kuota belajar itu patut dipertanyakan kapastias dan kredibilitasnya," ujarnya.

Sejauh ini belum ada pernyataan dari pengelola aplikasi tersebut terkait tudingan FSGI ini. 

Sebelumnya, Kemendikbud telah menyalurkan subsidi kuota internet kepada 9,6 juta orang yang terdiri dari siswa, guru, mahasiswa dan dosen. Kuota internet untuk belajar itu diterima pada penyaluran tahap pertama, 22-24 September 2020.

Kemendikbud akan kembali menyalurkan subsidi kuota tahap kedua pada 28-30 September. Jumlah penerima yang mendapat kuota internet pada tahap dua kemungkinan lebih besar.

Mendikbud Nadiem Makarim telah mengarahkan peserta subsidi yang belum menerima bantuan kuota agar melaporkan diri ke kepala sekolah atau pimpinan perguruan tinggi.

(thr/fra)

[Gambas:Video CNN]