Polisi Bubarkan Paksa Demo Mahasiswa Uncen Tolak Otsus Papua

CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 15:54 WIB
Aksi mahasiswa menolak penerapan otonomi khusus Papua jilid II berakhir ricuh. Polisi membubarkan paksa aksi mahasiswa. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Farid)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi membubarkan paksa aksi mahasiswa di sekitar Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua, Senin (28/9). Puluhan mahasiswa menggelar unjuk rasa menolak penerapan otonomi khusus Papua Jilid II.

"Tidak ada bentrok, Polri bubarkan paksa setelah laksanakan negosiasi," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kamal enggan menjabarkan secara rinci aksi unjuk rasa yang terjadi itu, termasuk soal kondisi yang terjadi sehingga mengharuskan aparat keamanan membubarkan paksa para demonstran.
 
Perwakilan Mahasiswa Uncen, Ayus Heluka mengatakan mahasiswa mendesak agar kajian terhadap kebijakan Otsus itu melibatkan rakyat setempat sebelum nantinya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua.


Dia merujuk pada ketentuan dalam Undang-Undang Otonomi Khusus itu sendiri yang pada Pasal 7 menyebutkan bahwa bila otonomi khusus berakhir, maka keputusannya akan dikembalikan pada rakyat.
 
"Untuk itu kami (Mahasiswa Uncen) menuntut agar Otsus dikembalikan kepada rakyat. Didengar rakyat Papua minta apa," kata Ayus kepada CNNIndonesia, Senin (28/9).
 
Semula, kata Ayus, pihak mahasiswa hendak melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Papua. Mereka juga menuntut agar dilakukan referendum sehingga rakyat Papua dapat menentukan nasibnya sendiri.
 
Hanya saja, kata dia, selama melakukan unjuk rasa pihak mahasiswa dibubarkan secara represif oleh pihak kepolisian. Kata dia, ada mahasiswa yang juga sempat ditangkap.
 
"Sebelum kami (mahasiswa) ke kantor Gubernur, kami dibubarkan polisi. Tiga orang terluka dipukul benda tumpul, dan tiga orang ditangkap (tapi sudah dibebaskan)," ujar Ayus.
 
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terlihat puluhan aparat TNI/Polri berjaga di sekitar Gapura Uncen atas di Jayapura.
 
Beberapa diantaranya terlihat mengenakan pakaian dinas lengkap dengan pelindung tubuh dan helm. Kendaraan taktis milik kepolisian dan beberapa aparat yang membawa senjata pelontar gas air mata juga terlihat terparkir di lokasi unjuk rasa.

Video lain juga menunjukkan, massa aksi mulai kocar-kacir usai terdengar beberapa kali suara letupan yang terdengar seperti tembakan. Meski demikian, Kamal enggan menjawab soal dugaan suara tembakan itu dalam unjuk rasa.
 
Gelombang penolakan terhadap Otsus Jilid II banyak disuarakan melalui aksi unjuk rasa di Papua. Pada Kamis (24/9), ribuan massa yang tergabung dalam Petisi Rakyat Papua (PRP) berunjukrasa di Kabupaten Nabire, Papua untuk menolak Otsus.
 
Juru Bicara Aksi, Jefry Wenda menyatakan aksi tolak Otsus itu rencananya digelar di depan Kantor Bupati Nabire, namun sebelum memulai, massa dihalau dan diblokade oleh aparat kepolisian. Akhirnya setelah bernegosiasi, aksi dilakukan di depan Polres Nabire.

"Setelah negosiasi dengan polisi. Massa melakukan long march dari Jembatan kali Nabire. Kami aksi di polres sekaligus jemput teman-teman yang ditahan," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (25/9).
 
Ia menjelaskan alasan penolakan Otsus Jilid II itu disebabkan karena selama penerapannya, tidak ada dampak positif yang dirasakan masyarakat Papua.

(mjs/ugo)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK