PR Besar Hadapi Covid Usai Libur Panjang

CNN Indonesia | Sabtu, 31/10/2020 11:54 WIB
Pemerintah dituntut menambah kapasitas tes Covid usai libur panjang, agar kasus corona tidak menjadi fenomena gunung es. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Libur panjang selama akibat cuti bersama akan segera berakhir. Sejumlah epidemiolog telah mewanti pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan kasus virus corona (Covid-19) akibat libur panjang ini. Belajar dari pengalaman dua kali cuti bersama beberapa waktu lalu itu, peningkatan kasus Covid-10 di tanah air valid terjadi.

Presiden Joko Widodo pun telah mengingatkan agar libur panjang akhir bulan ini tidak menciptakan lonjakan kasus Covid-19.

"Kita memiliki pengalaman kemarin libur panjang pada satu setengah bulan yang lalu. Setelah itu terjadi kenaikan agak tinggi. Sebab itu ini perlu kita bicarakan, agar kegiatan libur panjang dan cuti bersama jangan sampai berdampak kenaikan kasus Covid-19," kata Jokowi, Senin (19/19) lalu.


Bila merujuk data Satgas Penanganan Covid-19, penambahan jumlah kasus positif Covid-19 baik secara harian maupun kumulatif mingguan melonjak 69-93 persen pada libur panjang Idul fitri 22-25 Mei 2020. Lonjakan kasus itu terlihat dalam rentang waktu 10-14 hari kemudian.

Hal serupa juga terjadi pada libur panjang Agustus 2020 lalu. Penambahan jumlah kasus positif Covid-19 baik secara harian maupun kumulatif mingguan melonjak 58-118 persen sejak libur panjang 20-23 Agustus 2020. Serupa sebelumnya, lonjakan kasus itu terlihat dalam rentang waktu 10-14 hari kemudian.

Pepatah lama yang menyebut 'keledai tidak akan pernah jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama' harusnya menjadi motivasi mengenai bagaimana seharusnya pemerintah bertindak dalam penanganan Covid-19 usai libur panjang yang diprediksi bakal melonjak.

Menurut epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo, salah satu tugas utama pemerintah adalah meningkatkan testing.

Idealnya testing sudah harus dilakukan di masa libur panjang, tepatnta di setiap titik tempat wisata dan tempat publik yang kerap didatangi warga saat liburan harus benar-benar direalisasikan.

Setelah libur panjang, kata dia, pemerintah harus semakin menambah jumlah testing guna menelusuri jejak-jejak warga yang berpotensi terpapar virus corona. Namun peningkatan testing juga harus dibarengi dengan tracing dan treatment.

"Terlebih pasca liburan setelah 1 November, betul-betul peningkatan testing untuk mencari kasus covid-19 sebanyak mungkin agar bisa diisolasi, sehingga tidak meluas. Itu mutlak strategi utama, yakni testing, tracing dan dilanjutkan isolasi," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (24/10).

Windhu menyebut tanpa peningkatan jumlah testing usai libur panjang, wabah Covid di Indonesia akan menjadi sebuah fenomena gunung es.

Apalagi, ada dugaan beberapa pemerintah daerah sengaja tidak melakukan testing masif agar wilayahnya tidak terjadi kenaikan kasus.

Windhu menduga langkah itu ditempuh semata untuk kepentingan Pilkada. Cara menutupi penyebaran virus dengan meminimalkan testing disebutnya jadi kepentingan petahana agar tidak dicap gagal dalam menangani pandemi.

"Ini bisa saja seperti delima, luarnya oranye dalamnya merah, atau semangka yang seolah hijau padahal dalamnya merah," imbuhnya. 

Kekhawatiran gunung es Covid-19 bukan tanpa alasan. Kekhawatiran muncul karena pemerintah sampai saat ini masih belum mencapai batas minimum testing yang ditetapkan oleh Badan kesehatan Dunia (WHO).

WHO menetapkan standar pemeriksaan 1 orang tiap 1.000 penduduk per pekan. Dengan asumsi Indonesia memiliki 267 juta penduduk, ia menjelaskan target pemeriksaan seharusnya mencapai 267 ribu orang per minggu.

Sedangkan baru-baru ini, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo memaparkan pemerintah baru melakukan testing sebanyak 40 ribu sampai 45 ribu spesimen per hari atau masih di bawah standar WHO.

Pada beberapa kasus, pemerintah memang pernah melampaui pemeriksaan lebih dari 50 ribu spesimen per hari. Namun, Doni menambahkan bahwa ada kalanya satu orang memerlukan lebih dari satu spesimen, sehingga ia menyebut kemampuan rata-rata testing saat ini sekitar 33 ribu orang per hari.

Bila dikalikan sepekan maka menghasilkan jumlah 231 ribu, sehingga bisa dikatakan belum memenuhi standar testing WHO.

Dengan kapasitas testing yang demikian, bahkan tanpa harus menunggu lonjakan kasus pun, Windhu menyebut sebenarnya kasus Covid-19 saat ini telah memiliki benih-benih gunung es.

"Apa yang di-declare pemerintah setiap hari itu bukan realitas, itu hanya puncak dari gunung es. Karena sekali lagi, test detection yang berupa testing dan tracing itu rendah," kata dia.

(khr/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK