Jokowi Teken UU Ciptaker, KSPI Daftar Judicial Review ke MK

CNN Indonesia | Selasa, 03/11/2020 10:09 WIB
Sehari setelah omnibus law UU Ciptaker diteken Jokowi dan diberi nomor 11 tahun 2020, KSPI mendaftarkan gugatannya ke Mahkamah Konstitusi (MK). Pekerja saat sedang membersihkan dan melakukan disinfeksi ruang sidang pleno Mahkamah Konstitusi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sehari setelah omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) diteken Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan diberi nomor 11 tahun 2020, elemen pekerja atau buruh mendaftarkan gugatannya ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendaftarkan gugatan atas Ciptaker itu hari ini, Selasa (3/11).

"Sudah, sudah didaftarkan," kata Presiden KSPI Said Iqbal saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa pagi.


Said menerangkan pendaftaran gugatan itu dilakukan melalui daring dan loket resmi di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

"Melalui online dan ke loket langsung, jadi tadi pagi begitu loket dibuka tim hukum kami [KSPI] langsung melakukan pendaftaran," kata Said.

Said menerangkan hari ini KSPI hanya melakukan pendaftaran JR, tidak dibarengi unjuk rasa.

"[Hari ini] enggak ada aksi. Nanti tanggal 9 [November] aksi di DPR dan tanggal 10 [November] di Kemenaker," kata dia.

Sebelumnya, dalam keterangan pers-nya, Said mengatakan selain mengajukan gugatan ke MK, KSPI juga berencana kembali melakukan melanjutkan aksi unjuk rasa dan mogok kerja.

Mereka juga masih menuntut DPR untuk segera melakukan legislative review atas terbitnya UU Cipta Kerja.

"Kami juga melakukan kampanye atau sosialisasi tentang isi pasal UU Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang merugikan kaum buruh tanpa melakukan hoaks atau disinformasi," ujarnya dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com pada Selasa pagi.

Jokowi menandatangani UU Ciptaker pada Senin (2/11) siang, dan diberi nomor 11 tahun 2020. Naskah omnibus law sudah bisa diunduh di situs resmi Sekretariat Negara RI.

UU Cipta Kerja mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat bahkan sejak fase pembahasannya.

Setelah disahkan, UU Cipta Kerja pun sarat kontroversi. Misalnya, soal perbedaan jumlah halaman naskah yang sempat menjadi perdebatan.

Sejak disahkan dalam Rapat Paripurna DPR, Senin 5 Oktober, jumlah halaman naskah UU Cipta Kerja kerap berubah. Draf naskah UU yang dibahas dalam Rapat Paripurna diketahui hanya 905 halaman.

Namun, selang beberapa hari, draf yang sudah final berjumlah 1.035 halaman. Jumlah halaman draf UU tersebut kembali berubah menjadi 812 halaman.

Draf tersebut yang kemudian akhirnya diserahkan DPR ke Sekretariat Negara. Setelah draf tersebut berada di Setneg lalu diteken Jokowi, jumlah halaman kembali berubah dari 812 menjadi 1.187.

(tst/dmr/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK