Nadiem Sebar Laptop ke Sekolah, DPR Singgung Sulit Jaringan

CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2020 01:47 WIB
DPR mengkritisi anggaran Rp3 T untuk pengadaan laptop bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil yang sulit jaringan internet. Ilustrasi belajar jarak jauh via laptop. (Foto: ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menganggarkan dana hingga Rp3 triliun untuk membagikan laptop dan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Upaya ini dikritik Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, Abdul Fikri Faqih yang menilai kebijakan tersebut tidak disertai pemetaan kebutuhan belajar yang rinci di daerah.

"Sarana pendukung digital itu wajib ada akses internet. Sedangkan data pemerintah sendiri menunjukan wilayah 3T masih sulit dijangkau sinyal," katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (10/11).


Ungkapan tersebut merujuk pada data Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mencatat masih ada 9.113 desa di wilayah 3T yang belum mendapat jaringan 4G.

Dengan keadaan seperti ini, katanya, dikhawatirkan bantuan laptop dan perangkat TIK dari Nadiem hanya akan jadi pajangan.

"Alat-alat diadakan, tapi buat apa bila tidak ada akses informasi dan update bahan pelajaran," katanya.

Fikri menilai setiap kebijakan yang diambil sebuah kementerian seharusnya memperhatikan kondisi sesungguhnya di lapangan. Sehingga, solusi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan.

"Mas Menteri ini nampaknya kurang dapat support data yang cukup. Sebaiknya walaupun think globally, tapi tetap harus act locally sesuai data lapangan," ujarnya.

Selain itu, ia juga menyinggung banyaknya sumber daya pendidik yang belum lihai menggunakan alat TIK. Ini dikutip dari survei Pusat Data dan Informasi Kemendikbud pada 2018.

Survei tersebut menyebut 60 persen guru masih belum paham dengan pemanfaatan teknologi. Untuk itu ia mendorong Nadiem juga melakukan peningkatan kualitas sumber daya untuk pendidik.

Nadiem menyatakan pembagian laptop akan diupayakan ke daerah 3T mulai tahun 2021 melalui program digitalisasi sekolah.

"Digitalisasi sekolah itu bukan hanya penyediaan sarana TIK, tetapi juga mempermudah guru memilih apa yang paling cocok untuk anaknya," pungkasnya melalui keterangan resmi Kemendikbud.

Ia menyatakan program digitalisasi sekolah ini sudah disetujui Presiden Joko Widodo dan akan dibantu oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Nantinya, Kominfo akan membantu memenuhi kebutuhan jaringan internet di wilayah yang diberikan laptop. Pada program ini, ia juga mengupayakan kurikulum nantinya bisa diunduh dan diakses melalui internet.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Jumeri mengatakan setiap sekolah akan menerima 15 laptop dan satu akses poin internet.

Infografis Kebijakan 'Kampus Merdeka' ala Menteri NadiemInfografis Kebijakan 'Kampus Merdeka' ala Menteri Nadiem. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)

"Total dana yang diinginkan untuk digitalisasi sekolah ini sebenarnya mencapai Rp15 triliun. Namun untuk setiap tahunnya baru bisa dianggarkan Rp3 triliun," jelasnya.

Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ), keluhan perihal fasilitas belajar kerap disuarakan siswa dan guru. Namun untuk mereka yang berada di daerah 3T, perkara jaringan juga jadi masalah utama.

Untuk membantu PJJ, Nadiem berupaya menganggarkan dana untuk subsidi kuota. Namun kebijakan ini dinilai belum menyentuh masyarakat yang tak punya akses pada fasilitas dan jaringan internet.

Sebelumnya Nadiem juga mengumumkan akan meningkatkan besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk daerah 3T tahun depan. Ini dilakukan karena ia menyadari anggaran sekolah di 3T umumnya minim karena jumlah siswa yang sedikit.

(fey/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK