ANALISIS

Peta Suksesi Kapolri Usai Rotasi Polisi Besar-besaran

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 08:08 WIB
Lebih dari 600 perwira polisi dimutasi Kapolri Jenderal Pol Idham Azis yang termuat dalam sembilan telegram berbeda pada 16 November lalu. Kapolri Jendral Pol Idham Aziz (depan) saat upacara kenaikan pangkat pejabat Polri di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, 21 November 2019. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kapolri Jenderal Pol Idham Azis merombak ratusan perwira tinggi dan menengah (Pati dan Pamen) Polri dari jabatannya semula di Korps Bhayangkara pada pekan ini.

Idham Azis sendiri bakal purnabakti alias pensiun sebagai polisi pada Januari 2021 mendatang.

Mabes Polri sendiri menegaskan rotasi itu sebagai bentuk penyegaran organisasi. Sebagai informasi, Karopenmas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan total ada 637 orang yang diinformasikan mutasi lewat perintah dalam sembilan telegram terpisah yang terbit 16 November lalu.


Rinciannya, adalah personel dengan pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) 1 orang, Inspektur Jenderal (Irjen) 9 orang, Brigadir Jenderal (Brigjen) 63 orang, Komisaris Besar (Kombes) 478 orang, dan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) 86 orang.

Di antara perombakan tersebut, ada perwira tinggi yang diakui Mabes Polri dicopot dari jabatannya imbas dari pembiaran kegiatan yang menciptakan kerumunan massa selama pandemi virus corona (Covid-19). Mereka adalah Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sujana dan Kapolda Jabar Irjen Rudy Sufahradi. Kemudian, Kombes Heru Novianto dari jabatan Kapolres Metro Jakarta Pusat, dan AKBP Roland Ronaldy dari jabatan Kapolres Bogor.

Di luar penegakan prokes Covid-19, menurut sejumlah pihak, rotasi besar-besaran perwira polisi itu sarat kepentingan suksesi Kapolri menyongsong Idham yang akan pensiun.

"Peristiwa kerumunan massa Rizieq telah dimanfaatkan untuk mengubah peta kekuatan di internal Polri untuk menyongsong suksesi Kapolri pada Januari 2021," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (18/11).

Menurut dia, setidaknya ada dua nama besar yang kini ditempatkan dalam jabatan strategis buntut pencopotan Irjen Nana dari jabatan Kapolda Metro Jaya. Misalnya, Irjen Muhammad Fadil Imran yang dahulu merupakan Kapolda Jawa Timur dan kini digantikan oleh Irjen Nico Afinta.

Fadil Imran sendiri, merupakan seorang Jenderal berbintang dua yang acap kali mendapat pujian langsung dari Kapolri, terutama dalam penanganan virus Covid-19 saat ini di wilayah hukumnya kala itu, Jawa Timur.

Diketahui, Idham pernah memuji Fadil lantaran dengan tegas menegur dan mencopot Kapolsek Gubeng, Kompol Naufil yang tertidur dalam rapat koordinasi Kampung Tangguh penanganan Covid-19 di Gedung Sawunggaling, Surabaya, 22 Mei lalu. Inisiatifnya dalam membuat kampung tanggung pun diapresiasi Idham.

Fadil juga adalah sosok yang dipercaya menjadi Staf Ahli Sosial Budaya Idham Azis yang dilantik pada 1 November tahun lalu. Jabatan itu diembannya sebelum diberi kepercayaan menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur.

Sementara, Irjen Nico Afinta merupakan sosok seorang reserse yang pernah terlibat dalam sejumlah kasus menarik perhatian publik. Salah satunya, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Gabungan dan penyidikan untuk kasus penyiraman air keras penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Saat Idham masih sebagai Kapolda Metro Jaya pada 2017 silam, Nico merupakan anak buahnya yang ditempatkan dalam jabatan Direktur Reserse Kriminal Umum.

Kemudian, kala Idham pindah ke Mabes Polri, Nico pun mengikuti jejaknya sebagai Dirtipidum dan Staf Ahli Sosial dan Politik Kapolri pada 2019.

"Meski penentuan calon Kapolri adalah hak prerogatif presiden Jokowi tapi masing masing kekuatan di internal Polri berusaha mencari peluang dan bermanuver menyuguhkan calon calon terbaik dari kubunya," ujar Neta.

"Saat Idham menjadi calon Kapolri, keduanya adalah tim sukses yang ikut membuat naskah uji kepatutan Idham di Komisi 3 DPR," imbuhnya.

Meskipun demikian, Neta mengakui saat ini bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis masih terlalu cair. Belum lagi, kata dia, masih akan ada sejumlah mutasi untuk jabatan jenderal berbintang tiga yang akan terjadi di tubuh Korps Bhayangkara dalam beberapa waktu ke depan.

Di satu sisi, kata Neta, tak dimungkiri perombakan sejumlah Kapolda tersebut nantinya dapat berimplikasi langsung terhadap pemilihan Kapolri mendatang. Meski, belum tentu mereka yang dijagokan Idham langsung dapat menjadi calon Kapolri baru.

"Penyuguhan calon-calon kapolri terbaik itu dilakukan dengan cara menempatkan figur-figur tersebut di posisi strategis. Siapapun yang naik, tentu berpeluang untuk masuk dalam bursa calon Kapolri," pungkasnya.

Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-74 digelar secara virtual dari Istana Negara dan disiarkan di Bareskrim Polri serta Polda dan Polres jajaran, Rabu (1/7).Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-74 digelar secara virtual dari Istana Negara dan disiarkan di Bareskrim Polri serta Polda dan Polres se-Indonesia, 1 Juli 2020. (CNN Indonesia/ Michael Josua)

Terpisah, Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto mengamini asumsi yang menyatakan terdapat unsur kepentingan dalam pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Jawa Barat wajar terjadi. Apalagi, kata dia, rotasi besar-besaran ini juga terjadi menjelang bergesernya kursi kepemimpinan Polri.

Di satu sisi, dia sendiri menyayangkan munculnya gerbong-gerbong berbasis primordial kedaerahan atau unsur kedekatan lain dalam kontestasi Kapolri mendatang.

"Faksi-faksi di dalam tubuh organisasi Polri memang tak bisa dipungkiri dan itu sangat disayangkan. Dan, itu harusnya ditanggalkan," ucap Bambang.

Menurut dia, pencopotan dua Kapolda itu juga bukan serta-merta atas inisiatif Kapolri seorang. Menurutnya, pernyataan Presiden RI Joko Widodo dan Menkopolhukam Mahfud MD terkait lemahnya penerapan protokol kesehatan juga turut berpengaruh.

"Banyak perwira-perwira tinggi Polri yang punya kapasitas maupun kapabilitas. Dan itu adalah hak prerogatif presiden untuk mengajukannya ke DPR setelah mendapat pertimbangan Kompolnas," ujar dia.

Sementara, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Edi Hasibuan menilai tidak tepat mengaitkan mutasi personel Polri dengan unsur politis jelang pergantian kepemimpinan.

Menurut dia, sejumlah sosok yang dicopot lantaran memang memiliki kinerja yang kurang baik lantaran lalai dan tidak mengantisipasi kejadian-kejadian yang berujung pada kritik dari masyarakat.

"Ini menjadi pelajaran bagi seluruh Kapolda, Kapolres dan Kapolsek untuk bisa menjaga wilayahnya dengan baik," ucap Edi.

"Dia bagus, dia dapat tempat bagus," tambahnya.

Menurut Edi, penempatan sejumlah sosok pengganti seperti Irjen Fadil Imran, Irjen Ahmad Dofiri, Irjen Nico Afinta, Irjen Rikwanto, Irjen Albertus Rachmad Wibowo, Irjen Refdi Andri, hingga Irjen Putu Jayan Danu Putra sebagai Kapolda baru di wilayah masing-masing telah melalui proses penggodokan yang matang.

Dia mencontohkan, Irjen Fadil yang ditunjuk jadi Kapolda Metro Jaya dinilai telah dapat menjaga situasi keamanan dan ketertiban di wilayah Jawa Timur dengan baik. Ia mencontohkan dengan membubarkan acara Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang sempat bakal digelar di Gedung Juang 45, Surabaya September lalu.

Kemudian, sosok Ahmad Dofiri yang dinilainya dapat menjadi Kapolda tegas sewaktu bertugas di wilayah DIY Yogyakarta.

"Kami menilai Pak Kapolri sudah menempatkan orang yang tepat dengan kemampuan baik ditempat yang tepat," ujarnya.

Prediksi Mutasi Besar Polri Jelang Idham Pensiun

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK