Pemerintah Siapkan Infrastruktur dan SDM untuk Vaksin Covid

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2020 15:01 WIB
Untuk menyukseskan implementasi vaksinasi, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur dan melatih 23 ribu tenaga kesehatan sebagai vaksinator. Ilustrasi simulasi vaksin Covid-19. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Target produksi vaksin Covid-19 di Bio Farma mencapai 250 juta dosis. Untuk menyukseskan implementasi vaksinasi, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur dan melatih 23 ribu tenaga kesehatan sebagai vaksinator.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional atau Satgas Covid-19 Reisa Broto Asmoro menyebutkan, kelengkapan proses pelaksanaan vaksinasi Covid-19 sudah dipersiapkan secara cermat. Sementara, hingga saat ini proses pembuatan vaksin Covid-19 masih sedang dilakukan. Terakhir, tahapan pembuatan vaksin tersebut telah melalui uji klinis fase III dan melibatkan 1.620 relawan.

Terkait sumber daya manusia yang akan memberikan vaksinasi ke masyarakat, lanjut Reisa, Indonesia telah memiliki 23 ribu vaksinator yang terlatih. Dari jumlah tersebut, 7 ribu di antaranya telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menangani Covid-19.


"Untuk mempersiapkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah melatih 7 ribu dari 23 ribu tenaga kesehatan sebagai vaksinator. Sebanyak 7 ribu vaksinator bahkan sudah terlatih khusus. Dan pastinya, manajemen vaksin dan rantai dingin [cold chain] pun dengan cermat dipersiapkan," ujar Reisa sebagaimana dikutip dari laman resmi #SatgasCovid19, Sabtu (21/11).

Sebagai produsen vaksin yang diharapkan dapat menghentikan pandemi, Bio Farma terpilih berdasarkan pengalaman panjang perusahaan farmasi tersebut dalam produksi puluhan ribu vaksin sejak 130 tahun lalu. Vaksin produksi Bio Farma juga telah digunakan Negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Jika mengacu survei nasional yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) serta didukung UNICEF dan WHO, sebanyak 64,8 persen dari 115 ribu responden di 34 provinsi bersedia menerima vaksin Covid-19.

Vaksinolog Dirga Sakti Rambe menambahkan bahwa Indonesia telah memiliki infrastruktur yang memadai untuk proses distribusi vaksin hingga ke pelosok, termasuk vaksin Covid-19 yang sedang ditunggu-tunggu.

Terkait dengan infrastruktur rantai dingin, Dirga menyebutkan bahwa hal itu sangat diperlukan dalam rantai distribusi vaksin. Perlu diketahui, lanjutnya, bahwa vaksin adalah produk biologis yang perlu disimpan dengan cara khusus karena sensitif terhadap suhu. Mayoritas vaksin, disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius. Khusus untuk vaksin polio, tempat penyimpanannya membutuhkan suhu minus 20 derajat celcius.

"Sejak vaksin diproduksi sampai digunakan di rumah sakit dan puskesmas, transportasinya mesti terjamin suhunya. Dan jangan khawatir, kita sudah berpengalaman. Kita sudah siap," ujarnya.

Menurut Dirga, Indonesia memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam memproduksi, mendistribusikan, hingga mengimplementasikan vaksin. Sistem rantai dingin yang menjadi salah satu unsur penentu kualitas vaksin juga sudah terbangun dengan baik.

"Sekitar 97 persen sistem rantai dingin ini berjalan dengan baik jadi tidak perlu khawatir. Mulai dari pabrik sampai yang menerima di puskesmas, misalnya di Aceh atau Papua, itu semua sudah siap," kata Dirga.

Meskipun infrastruktur dan SDM sudah mulai disiapkan, lanjutnya, masyarakat perlu sedikit bersabar hingga hasil uji klinik fase III selesai dan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) keluar terlebih dahulu. Baru setelah itu, vaksin Covid-19 bisa beredar di Indonesia.

"Dari data itu nanti ketahuan, berapa besar efektivitas vaksin Covid-19. Setelah itulah produsen mengajukan izin edar ke BPOM. Jadi kalau vaksin sudah mendapat izin edar dari BPOM itu sudah dipastikan keamanan dan efektivitasnya," paparnya.

(ang/rea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK