How Democracies Die: Kala Pemenang Pemilu Jadi Diktator

CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 06:52 WIB
How Democracies Die mengingatkan masyarakat bahwa para pemimpin yang terpilih lewat jalur demokrasi, bisa menjadi bumerang bagi demokrasi itu sendiri. Ilustrasi pemilihan umum. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mendadak viral usai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto sedang membaca buku tersebut pada Minggu (22/11).

Buku itu berisi hasil penelitian dan pengamatan Levitsky-Ziblatt terhadap kematian demokrasi di beberapa negara. Titik penekanan buku itu soal gejala kematian demokrasi di Amerika Serikat setelah Donald Trump menjabat presiden.

Buku itu terbit pada 2018 dalam bahasa Inggris dan dialih bahasa ke bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Jakarta di tahun berikutnya.


Dalam buku itu, Levitsky-Ziblatt membeberkan catatan sejarah soal kematian demokrasi yang tak selalu dimulai oleh jenderal militer lewat kudeta. Kisah kematian demokrasi yang monumental justru datang dari proses paling demokratis.

How Democracies Die menjadikan karier politik Adolf Hitler, Benito Mussolini, dan Chavez sebagai contoh. Ketiganya gagal meraih tampuk kekuasaan lewat kudeta, tapi berhasil menjadi diktator usai melalui proses legal.

Dalam kudeta klasik, kata Levitsky-Ziblatt, kematian demokrasi tampak jelas. Istana dibakar dan presiden terbunuh, dipenjara, atapun diasingkan. Namun hal itu tak terjadi dalam kematian demokrasi lewat pemilu.

"Tak ada tank di jalanan. Konstitusi dan lembaga berlabel demokratis lainnya tetap ada. Rakyat masih memberi suara. Autokrat hasil pemilu mempertahankan tampilan demokrasi sambil menghilangkan substansinya," tulis Levitsky-Ziblatt dalam How Democracies Die.

Buku itu menyebut kematian demokrasi lewat jalur elektoral yang demokratis justru membuat warga tidak sadar. Banyak orang yang percaya mereka masih hidup dalam demokrasi meski tanda-tanda kediktatoran terjadi di depan mereka.

"Ketika rezim jelas-jelas 'melewati batas' memasuki kediktatoran, tak ada yang bisa membuat alarm masyarakat berbunyi. Mereka yang mencela tindakan pemerintah barangkali dianggap berlebihan atau bohong. Erosi demokrasi itu hampir tak terasa bagi banyak orang," tulis Levitsky-Ziblatt.

Ciri-ciri Pemimpin Diktator

Belajar dari kediktatoran Hitler, Musolini, dan Chavez, buku itu menyebut diktator bisa lahir saat partai politik yang mapan mulai melemah.Mereka tergiur oleh sosok kharismatik di luar politik mapan yang punya banyak pendukung, Levitsky-Ziblatt menyebutnya demagog.

Levitsky-Ziblatt menyampaikan cara agar mencegah kematian demokrasi adalah dengan mengidentifikasi diktator sejak awal. Mereka mengutip Juan Linz soal empat ciri diktator.

"Kita sebaiknya khawatir apabila seorang politikus 1) menolak aturan main demokrasi, dengan kata-kata atau perbuatan, 2) menyangkal legitimasi lawan, 3) menoleransi atau menyerukan kekerasan, atau 4) menunjukkan kesediaan membatasi kebebasan sipil lawan, termasuk media," tulis Levitsky-Ziblatt.

Meski begitu, mereka berpendapat tak mudah untuk mengidentifikasi diktator sejak dini. Belajar dari pengalaman di masa lalu, kediktatoran bahkan tak terlihat saat permulaan.

"Namun politikus tak selalu mengungkap keseluruhan kadar otoritarianisme mereka sebelum meraih kekuasaan. Beberapa menganut norma-norma demokrasi pada awal karier, kemudian mencampakkannya," ujar mereka.

(dhf/wis)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK