Satgas: Stigma Negatif Pasien Covid-19 Picu Kematian Tinggi

CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 06:00 WIB
Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan stigma negatif terhadap pasien Covid-19 menjadi salah satu penyebab kasus kematian akibat corona di Indonesia tinggi. Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyatakan stigma negatif terhadap pasien Covid-19 menjadi salah satu penyebab kasus kematian akibat corona di Indonesia tinggi. (Dok. BPMI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa stigma negatif terhadap pasien Covid-19 menjadi salah satu penyebab kasus kematian akibat virus corona di Indonesia tinggi.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menjelaskan bahwa masih banyak warga yang takut mengikuti tes karena khawatir hasil akan positif Covid-19. Namun jika dibiarkan, pasien tersebut punya kemungkinan bergejala berat hingga meninggal.

"Stigma negatif seperti, 'Oh, Covid-19, ya?' orang lebih baik enggak ngaku Covid-19 daripada ngaku. Testing tracing itu jadi masalah karena ada stigma negatif, padahal pemerintah itu pengen nolong. Cepat kalau betulan Covid, segera dirawat. Enggak usah malu," kata Wiku dalam dialog 'Pandemi Belum Berakhir' di YouTube BNPB, Jumat (4/12).


Ia mengatakan bahwa stigma negatif membuat orang yang hendak memeriksakan dirinya terkait Covid-19 ke rumah sakit jadi mengurungkan niatnya. Di sisi lain, semakin cepat Covid-19 terdeteksi, maka kian besar potensi untuk sembuh.

Wiku juga menjelaskan bahwa angka kematian sangat dipengaruhi oleh pelayanan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Jika banyak pasien bergejala berat yang datang, maka rumah sakit bisa kewalahan.

"Ke rumah sakitnya lambat sekali. Terakhir kalau sudah terpaksa, baru ke rumah sakit. Tapi kalau enggak ada stigma negatif, dia ada gejala langsung periksa, langsung dirawat. Kalau dia cepat dirawat, otomatis ditangani lebih awal dia bisa cepat sembuh," tutur Wiku.

Dengan demikian, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia bisa semakin rendah. Rumah sakit pun tidak perlu kewalahan menangani pasien Covid-19 bergejala berat yang membutuhkan ventilator.

"Angka kematian itu akan tinggi apabila pelayanan di rumah sakit tidak mampu menyembuhkan mereka," tutur Wiku.

Dalam beberapa waktu terakhir, tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di beberapa daerah memang meningkat.

[Gambas:Video CNN]

Di Kota Bandung, misalnya, keterisian ruang isolasi untuk pasien Covid-19 mencapai 87,15 persen. Kondisi serupa juga terjadi pekan lalu di Yogyakarta. Kapasitas tempat tidur di rumah sakit terisi 70 persen. Untuk tempat tidur ICU, keterisiannya mencapai 61 persen.

Di DKI Jakarta sendiri, hingga Minggu (29/11), keterisian tempat tidur isolasi mencapai 79 persen. Untuk tempat tidur ICU, keterisian mencapai 74 persen.

Sementara itu, angka kematian Covid-19 di Indonesia masih lebih tinggi dari global. Menurut data mingguan Satgas Covid-19, persentase kematian rata-rata pada pasien Covid-19 terkonfirmasi per 23 November-29 November sebesar 3,15 persen, sementara standar WHO hanya 2,3 persen.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Kamis (4/12), akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 557.887 orang.Sebanyak 462.553 dinyatakan sembuh, dan 17.355 kasus meninggal dunia.

(mln/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK