ANALISIS

Kemenangan Gibran dan Bobby, Sejarah Baru Dinasti Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 10/12/2020 10:10 WIB
Pengamat menyebut kemenangan Gibran dan Bobby sebagai sejarah baru di mana keluarga presiden aktif terpilih menjadi kepala daerah. Presiden Joko Widodo (kiri), Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kiri) dan putranya, Gibran Rakabuming Raka (kanan) dan Kaesang Pangarep (kedua kanan) di Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/11). (ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil hitung cepat Pilkada Serentak 2020 membawa Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution mengungguli lawannya di daerah masing-masing yaitu Solo dan Medan.

Putra dan menantu Presiden Joko Widodo itu berpeluang besar menjadi pemimpin berikutnya untuk dua daerah tersebut.

Gibran unggul telak melalui versi hitung cepat di Pilkada Solo. Berdasarkan hitung cepat Charta Politika, Gibran-Teguh dinyatakan unggul atas lawannya, Bagyo Wahono-FX Suparjo (BaJo) dengan meraih 87,15 persen suara, sementara BaJo hanya memperoleh 12,85 persen.


Kemenangan serupa juga dialami Bobby yang unggul meski hasil suara tak terpaut jauh dari rivalnya.Bobby Nasution unggul dengan 55,29 persen suara. Sementara rivalnya, Akhyar-Salman mengantongi 44,71 persen suara.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Jakarta Ujang Komarudin mengatakan kemenangan Gibran dan Bobby menandakan eksisnya trah Jokowi di kancah perpolitikan Indonesia.

Jokowi, kata dia, akan mengukir sejarah baru bagi bangsa ini karena anak dan menantunya berhasil memenangkan pilkada saat masih aktif menjabat sebagai presiden.

"Ini sejarah hari ini, di mana anak dan menantu Presiden aktif terpilih menjadi kepala daerah. Ini the first time bagi sejarah bangsa," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/12).

Ujang sudah memprediksi sejak jauh-jauh hari Gibran dan Bobby akan menang di Pilkada 2020. Sebab, identitasnya sebagai keluarga Presiden akan sulit ditandingi lawan-lawannya.

"Pasti akan menang saya bilang sejak 6 bulan lalu. Karena dia anak presiden. Semua politisi paham itu. Kalau anak RI 1 maju ya sudah enggak ada yang bisa melawan," kata Ujang.

Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan kepada Wartawan saat berada di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2020).  Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa resmi mendapat rekomendasi PDI Perjuangan untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo pada Pilkada serentak Desember mendatang. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/pras.Gibran Rakabuming Raka saat memberikan keterangan kepada wartawan di kantor DPC PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2020). (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)

Ujang menilai nama Jokowi sendiri sudah menjadi modal dan faktor penentu kemenangan bagi Gibran dan Bobby saat berkontestasi di Pilkada. Khusus bagi Gibran, nama Jokowi sendiri sangat diperhitungkan oleh masyarakat Solo karena pernah menjabat sebagai wali kota di Kota Batik itu selama dua periode.

Tak hanya itu, Jokowi yang berstatus sebagai presiden juga menguasai pelbagai sumber daya kekuasaan yang besar. Sumber daya itu, kata dia, potensial bisa digunakan untuk membantu keluarganya di Pilkada, baik secara langsung atau tak langsung.

"Jokowi punya kendali TNI/Polri, terus jaringan uang yang, siapa yang enggak punya uang? Jokowi punya APBN, BUMN, pengusaha, birokrasi semua sumber daya dimiliki presiden. Kalau anaknya enggak menang itu lucu. Kalau menang itu biasa," kata dia.

Meski demikian, Ujang menilai pencalonan anak dan menantu Jokowi di pilkada sarat dinasti politik di tengah iklim demokratisasi di Indonesia. Meski peraturan memperbolehkan, Ujang mengatakan seyogyanya praktik yang berbau dinasti dan oligarki bisa dijauhkan bila Jokowi sepakat dengan demokrasi yang sehat di Indonesia.

"Kalau kita sepakat demokrasi, kan itu harusnya dihilangkan, harusnya diminimalisir, harusnya dijauhi. Hari ini justru tumbuh. Nah, presiden harusnya kalau sepakat demokrasi meskipun itu hak, harusnya tidak melakukan itu. Harusnya," kata Ujang.

Anomali

Pengamat politik Universitas Andalas Asrinaldi mengatakan kepemimpinan bapak-anak-menantu di periode yang sama merupakan suatu anomali. Kendati demikian, ia mafhum dalam kehidupan demokrasi siapa pun berhak menjadi pemimpin.

"Kalau kita lihat fenomena ini memang agak anomali dalam arti bahwa ketika seorang presiden berkuasa kemudian mendorong keluarganya terutama anak dan menantu ikut kontestasi, dan terpilih," kata Asrinaldi kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Kamis (10/12).

"Tentu secara etika berdemokrasi ini kurang elok dilihat karena bagaimana pun ini akan menjadi sorotan dalam proses bernegara," lanjutnya.

Asrinaldi menekankan potensi konflik kepentingan bisa saja terjadi dalam hal menyelenggarakan negara. Atas dasar itu, ia meminta agar Gibran dan Bobby mengetahui batas-batas kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya jika menjadi pemimpin.

"Kita khawatirnya conflict of interest. Bisa jadi dalam konteks tata bernegara hubungan mereka personal," tutur dia.

Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution mengaku tak tertarik menjadi pengurus PSSI, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/6).Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/6). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Sementara itu, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, memandang peristiwa tersebut sebagai keniscayaan dalam berdemokrasi. Sebab, siapa pun bisa menjadi calon pemimpin dalam negara demokrasi.

"Dalam perspektif itulah kalaupun ada anak-mantu [Presiden] jadi wali kota, orang menganggap inilah bagian dari keniscayaan demokrasi," ujarnya dalam sambungan telepon.

Adi lebih menyoroti peran partai politik dalam menentukan calon pemimpin. Ia menilai sistem rekrutmen dan kaderisasi partai tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Kritiknya lebih pada bagaimana partai ini tidak bisa melakukan rekrutmen dan kaderisasi sejak awal terhadap calon-calon pemimpin. Kalau Gibran dan Bobby jadi kader partai sejak awal, saya kira enggak akan ramai diskusinya. Yang ramai karena dia itu dianggap memiliki keistimewaan," ujarnya.

Pilkada Serentak 2020 ini menentukan gubernur di sembilan dari 34 provinsi, bupati di 224 dari 416 kabupaten, dan wali kota di 37 dari 98 kota.

Berdasarkan hasil hitung cepat, selain Gibran dan Bobby, ada lima calon kepala daerah lain yang menang dan berkaitan erat dengan politik kekerabatan.

Mereka ialah Calon Wakil Wali Kota Tanggerang Selatan Pilar Saga Ichsan yang merupakan sepupu dari Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy. Pilar Saga juga merupakan keponakan Ratu Atut Chosiyah.

Kemudian ada Calon Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Ia merupakan adik Ratu Atut Chosiyah dan kerabat Andika Hazrumi. Ratu Tatu merupakan ibu Pilar Saga.

Berikutnya ada Calon Wali Kota Kediri Hanindhito Himawan Pramana, putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung; Calon Bupati Pacitan Indrata Nur Bayu Aji yang merupakan keponakan Susilo Bambang Yudhoyono; dan Calon Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani selaku Istri dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

(rzr/ryn/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK