Satgas: Pasien Covid Komorbid Ginjal Paling Berisiko Kematian

CNN Indonesia | Rabu, 16/12/2020 21:59 WIB
Data Satgas Covid-19 menyatakan penyakit jantung memiliki risiko kematian tertinggi kedua setelah ginjal. Ilustrasi pasien Covid-19 (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas Penanganan (Satgas) Covid-19 mengungkapkan penyintas virus corona (Covid-19) dengan penyakit penyerta atau komorbid ginjal memiliki risiko kematian tertinggi di tanah air. Temuan tersebut merupakan hasil kajian Satgas dengan sampel kasus Covid-19 Indonesia selama kurang lebih 5 bulan terakhir.

"Paling tinggi risiko kematian, yakni mereka yang punya penyakit ginjal. Jadi 13,7 kali lipat risiko kematiannya," Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Rabu (16/12).

Penyakit jantung memiliki risiko kematian 9 kali lebih besar, diabetes 8,3 kali lebih besar, lalu hipertensi 6 kali lebih besar, dan penyakit imun memiliki risiko kematian 6 kali lebih besar.


Selain itu, Aisyah menyebut pasien covid-19 dengan komorbid memiliki risiko kematian lebih tinggi daripada pasien covid-19 yang tidak memiliki komorbid.

Bila pasien Covid-19 memiliki satu jenis komorbid maka risiko kematiannya 6,5 kali lipat lebih tinggi. Kelipatan angka itu berlaku terhadap pasien Covid-19 yang memiliki lebih dari satu penyakit komorbid.

Misalnya, apabila pasien memiliki penyakit diabetes dan hipertensi, maka risiko kematian mencapai 13 persen,

"Kalau mereka punya satu saja jenis komorbid dibandingkan dengan orang yang tidak punya komorbid, itu risiko kematiannya 6,5 kali lipat lebih tinggi," kata dia.

Penelitian pada aspek usia juga menunjukkan bahwa pasien Covid-19 berusia 31-45 tahun dan 46-59 tahun masing-masing berisiko 2,4 dan 8,5 lipat dibanding mereka yang berusia 19-30 tahun. Risiko ini akan semakin meningkat pada usia di atas 60 tahun yakni 19,5 kali lipat.

"Apalagi komorbid ditambah usia rentan atau lansia, maka semakin tinggi lagi risiko kematiannya," pungkas Dewi.

Data penelitian dan analisis ini, lanjut Dewi, akan dipakai pemerintah untuk mengetahui golongan mana saja yang lebih diprioritaskan untuk mendapat perhatian lebih.

Dewi meminta pemerintah daerah tetap aktif dan fokus melakukan upaya testing, tracing dan treatment (3T). Sementara masyarakat juga diharap tetap patuh dalam menjalankan 3M yang meliputi memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

(khr/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK