ANALISIS

Krisis RS Rujukan Covid-19, Buah Salah Penanganan Sedari Awal

CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2021 19:42 WIB
RS rujukan Covid di Indonesia terancam kolaps. Pemerintah memprediksi tempat tidur ICU dan rawat inap RS rujukan penuh sampai Februari 2021. Kondisi RS rujukan Covid-19 yang hampir kolaps tak terlepas dari kesalahan penanganan pemerintah sejak awal pandemi. Ilustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kondisi rumah sakit (RS) untuk penanganan pasien positif Covid-19 di sejumlah daerah hampir kolaps. Tempat tidur di ruang ICU dan isolasi RS diprediksi penuh hingga Februari 2021.

Dari hitung-hitungan pemerintah, jumlah tempat tidur yang dibutuhkan saat ini adalah 30 persen dari jumlah kasus aktif.

Sehingga Indonesia membutuhkan setidaknya 36 ribu tempat tidur untuk merawat pasien Covid, mengingat kasus aktif per Senin (11/1), mencapai 120 ribu orang.


Sementara, jumlah tempat tidur yang tersedia sampai saat ini di seluruh Indonesia hanya sekitar 15 ribu unit.

Dokter emergency sekaligus relawan Lapor Covid-19, Tri Maharani mengatakan kondisi RS rujukan di sejumlah daerah yang mulai kolaps tak terlepas dari kesalahan pada awal penanganan pandemi.

Menurut Tri, pemerintah sejak awal seharusnya mengedepankan sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT).

"Harusnya ada sistem penanganan gawat darurat terpadu, di mana pre-hospital dan hospital itu ada benang merahnya yang disebut komunikasi dan transportasi," kata Tri saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/1).

Tri menyatakan kolapsnya RS rujukan ini juga tidak lepas dari rendahnya jumlah testing dan tracing. Ia menyebut bahwa testing dan tracing merupakan langkah awal untuk menentukan apakah pasien tersebut perlu dirawat di RS atau tidak.

Menurutnya, bagi pasien positif tanpa gejala atau bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri atau di tempat-tempat selain RS rujukan, sehingga RS rujukan benar-benar khusus pasien dengan gejala berat.

"Kalau dilakukan ketat, saya kira dalam waktu satu bulan ini selesai masalah penuhnya RS, karena yang datang ke RS hanya yang (bergejala) berat saja," ujar Tri.

"Dan yang berat itu akan berkurang keberatannya kalau sejak dini ketika mereka masih berupa tanpa gejala sudah terisolasi dan terobati," katanya.

Di sisi lain, Tri juga meminta pemerintah memperbaiki sistem komunikasi yang terintegrasi antar fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan diketahui memiliki National Command Center atau NCC.

NCC, jelas Tri, merupakan pusat komando milik Kemenkes untuk bisa mencarikan RS bagi pasien yang membutuhkan pertolongan medis. Jadi, nantinya, pihak RS dan NCC lah yang mencarikan ICU bagi pasien yang membutuhkan.

"Bukan pasien yang cari. Pasien wis putus asa dengan kondisinya dia, masih disuruh cari RS sendiri," ujarnya.

Pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat di Pulau Jawa-Bali untuk menekan penyebaran Covid-19. PSBB berlaku mulai 11-25 Januari 2021.Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat di Pulau Jawa-Bali untuk menekan penyebaran Covid-19. PSBB berlaku mulai 11-25 Januari 2021.

Lebih lanjut, Tri mengatakan bahwa sistem tersebut juga harus didukung dengan kesiapan ambulans gawat darurat atau AGD, sehingga pasien tidak perlu naik kendaraan pribadi atau umum saat hendak isolasi.

"Sistem SPGDT dgn NCC sebagai pusat, kemudian transportasi dengan AGD 119 saya kira cukup. Cuma optimalisasi dan kolaborasinya harus bagus," katanya.

PPKM Tekan Beban RS

Sementara, Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Frilasita Aisyah Yudhaputri menilai langkah pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa Bali sudah bisa membantu menurunkan beban rumah sakit.

Di sisi lain, perempuan yang akrab disapa Sisi itu mengatakan seharusnya hanya pasien dengan gejala berat yang dirawat di rumah sakit.

"Untuk kasus mild (ringan), isolasi mandiri di rumah dengan pemantauan gejala juga bisa jadi solusi, sehingga kasus gawat bisa dihandle rumah sakit," kata Sisi.

Meskipun demikian, kata Sisi, pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas tempat tidur ICU maupun isolasi RS. Perhitungan kapasitas tempat tidur di RS juga perlu memperhatikan masih banyak pasien penyakit lain yang juga membutuhkan penanganan di RS.

"Jangan sampai penyakit lain pada akhirnya menjadi tidak tertangani," ujarnya.

Hingga kemarin, Senin (11/1), kasus positif Covid-19 mencapai 836.718 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 688.739 orang dinyatakan sembuh dan 24.343 orang lainnya meninggal dunia.

Sementara kasus aktif Covid-19 mencapai 123.636 orang. Mereka adalah pasien positif virus corona yang dirawat di rumah sakit dan isolasi mandiri di rumah atau tempat yang disediakan oleh pemerintah.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto memprediksi puncak kasus virus coron terjadi dalam sepekan ini. Prediksi itu merupakan perhitungan 14 hari pascalibur panjang natal dan tahun baru.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan tempat tidur di ruang ICU dan isolasi di rumah sakit untuk perawatan pasien Covid-19 bakal penuh hingga Februari 2021. Ia pun meminta kasus positif Covid-19 tanpa gejala melakukan isolasi mandiri di rumah.

(dmi/fra)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK