ANALISIS

Bahaya Efek Domino Pesta Raffi Ahmad

CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 07:11 WIB
Blunder keluyuran Raffi Ahmad akan membuat pemerintah semakin sulit melakukan komunikasi penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat. Raffi Ahmad mengikuti vaksinasi Covid-19 gelombang pertama. (Tangkapan Layar youtube Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi keluyuran dan ikut pesta selebritas Raffi Ahmad usai ikut vaksin covid bersama Presiden Jokowi dinilai berbuntut panjang dan merepotkan strategi pemerintah dalam sosialisasi vaksinasi.

Tindakan Raffi memancing cibiran publik terutama di media sosial. Sejumlah pihak menuding Raffi tak menghiraukan keistimewaan keterlibatan dirinya sebagai influencer yang berkesempatan mendapat vaksin gelombang pertama.

Kementerian Kesehatan ikut menyesalkan tindakan Raffi. Menurut Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, warga yang ikut vaksin tak serta merta bebas dari aturan protokol kesehatan.


Ia mengingatkan, penerima vaksin tetap harus mematuhi protokol kesehatan 3M yang meliputi memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Seharusnya walau dia sudah divaksin tetap menjalankan protokol kesehatan ya, tidak boleh kendor atau lalai melakukan 3M. Apalagi setelah dilakukan vaksinasi diperlukan waktu untuk tubuh membuat antibodi ya," ungkap Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/1).

Ahli komunikasi politik dari lembaga survey KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menuturkan, kasus Raffi akan memancing efek domino terkait penerapan protokol kesehatan di tengah masyarakat.

Beberapa saat usai ramai kasus Raffi di media sosial, Kunto menangkap nada pembelaan warganet terhadap Raffi. Menurutnya, sebagian besar dari mereka menilai Raffi bebas untuk abai terhadap protokol kesehatan sebab telah divaksin.

Menurut Kunto, kondisi itu akan semakin mempersulit komunikasi penerapan protokol kesehatan pemerintah kepada masyarakat.

"Seakan-akan kalau udah vaksin, makanya kita nggak perlu lagi pakai protokol kesehatan, justru ini saat kritisnya," ujar Kunto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/1).

"Dan itu akan sangat susah lagi untuk mengomunikasikan bahwa setelah vaksin kita masih butuh menegakkan protokol kesehatan," imbuh dia.

Kunto tak menampik sosok Raffi sebagai publik figur yang cukup populer. Oleh sebab itu, menurut dia, kasus Raffi yang saat ini menjadi sorotan, disengaja atau tidak bakal jadi perhatian para pengikutnya. Kasus Raffi bahkan akan semakin meneguhkan sikap masyarakat yang meyakini vaksin secara otomatis akan membikin seseorang kebal terinfeksi Covid-19.

"Itu udah susah diubah dan semakin diteguhkan dengan perilaku Raffi ini. Itu kan yang jadi sangat berbahaya kan di situ," katanya.

Kunto juga mengkritik keputusan pemerintah yang menggelar seremonial pelaksanaan vaksin terhadap Jokowi dan sejumlah menterinya, termasuk perwakilan unsur masyarakat di Istana. Selain tak substantif, pemerintah nyatanya malah blunder usai Raffi, yang masuk dalam undangan justru kini jadi sorotan.

Menurut Kunto, seremonial vaksin untuk kesekian kali menunjukkan pemerintah terkesan tak memiliki sense of crisis di tengah lonjakan kasus yang dalam beberapa hari terakhir terus menyentuh rekor. Ia juga heran. Pasalnya, sejak awal pemerintah memang terus menunjukkan kesan tak ingin kasus penyebaran Covid-19 menjadi krisis.

"Maunya masyarakat nggak panik. Pasar tidak panik. Ekonomi tetep berjalan. Makanya akhirnya sangat wajar ketika yang muncul adalah seremoni-seremoni seperti itu," katanya.

"Untuk memperlihatkan kita baik-baik saja. Padahal kita nggak sedang baik-baik saja," ucapnya.

(thr/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK