Epidemiolog Sebut Testing Ideal di RI 200-300 Ribu Per Hari

CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2021 08:23 WIB
Epidemiolog Dicky Budiman memproyeksikan Indonesia belum pada tahap mendekati puncak gelombang kasus covid-19 Ilustrasi virus corona. (iStockphoto/oonal)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai jumlah ideal pemeriksaan deteksi warga terhadap penularan virus corona (Covid-19) di tanah air sewajarnya dilakukan terhadap 200-300 ribu orang per hari.

Target pemeriksaan itu menurutnya telah dihitung dengan mempertimbangkan jumlah penduduk Indonesia dan tingginya angka positivity rate di tanah air yang melebihi ambang batas dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen.

"Sudah seharusnya testing itu berada di angka 200-300 ribu per hari untuk ukuran Indonesia dengan jumlah penduduk kurang lebih 270 juta, itu idealnya," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (18/1).


Namun demikian, sejauh ini upaya pemeriksaan yang dilakukan pemerintah hanya berkisar di target minimum yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni 1 orang tiap 1.000 penduduk per pekan. Dengan asumsi Indonesia memiliki 270 juta penduduk, maka target pemeriksaan seharusnya mencapai 270 ribu orang per minggu atau 39 ribu orang per hari.

Bila menilik data harian yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 pada sepekan lalu atau 11-17 Januari 2021, maka terlihat jumlah pemeriksaan covid-19 yang dilakukan per tanggal 11 Januari yakni 27.948 orang, kemudian 12 Januari 40.548 orang, 13 Januari 46.977 orang, dan 14 Januari 46.097 orang.

Lalu 15 Januari testing dilakukan terhadap 49.466 orang, 16 Januari 45.358 orang, dan 17 Januari 34.370 orang. Sehingga bila diakumulasi dalam sepekan jumlah pemeriksaan covid-19 di Indonesia dilakukan terhadap 290.764 orang.

"WHO 1 orang tiap 1.000 warga dalam seminggu itu hanya batas paling minimal ya. Dengan jumlah penduduk di Indonesia maka itu jelas kurang," jelas Dicky.

Dengan kondisi itu, Dicky pun memproyeksikan Indonesia belum pada tahap mendekati puncak gelombang kasus covid-19. Ia pun menggambarkan sebaran kasus covid-19 di Indonesia tak ubahnya seperti puncak gunung es, sehingga menurutnya masih banyak kasus di bawah permukaan yang belum teridentifikasi secara keseluruhan.

"Minimnya intervensi, minimnya pembatasan mobilitas, itu yang menyebabkan gelombang pertama kita lama, memanjang, dan menguat," pungkasnya.

Sepakat dengan Dicky, Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyebut peringkat atau urutan testing Indonesia berada di urutan bawah dengan nomor 159 dari seluruh negara di dunia.

Apalagi bila dihitung kapasitas testing Indonesia dalam kurang lebih 11 bulan pandemi ini hanya berkisar di antara 2 persen penduduk Indonesia. Sebab berdasarkan data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 per Senin (18/1) menunjukkan secara kumulatif hanya 5.587.809 orang yang telah menjalani pemeriksaan deteksi covid-19 di tanah air.

"Indonesia baru melakukan testing 2 persen dari jumlah penduduk," kata Windhu kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/1).

Lebih lanjut, Windhu menilai cetak rekor hingga 14 ribu kasus covid-19 itu bukanlah angka kasus sesungguhnya di tanah air. Ia menyebutkan beberapa lembaga penelitian internasional memaparkan angka kasus Indonesia yang sesungguhnya berada di 40 ribu hingga 120 ribu kasus per hari.

Dengan temuan data pengamatan itu, maka Windhu pun yakin upaya 3T di Indonesia sangat minim. Terbukti dalam sehari hanya mampu menemukan paling banyak 14 ribu kasus dengan jumlah orang yang diperiksa sekitar 35-40 ribu orang per harinya.

"Padahal kunci utamanya itu case finding. Tapi angka testing kita ambang batas WHO saja jarang terpenuhi, padahal itu minimal lho ya," pungkasnya.

(khr/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK