Komnas KIPI: Tak Semua Kejadian Pasca-Imunisasi karena Vaksin

CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2021 09:20 WIB
Komnas KIPI menyatakan tak semua kejadian pasca-imunisasi terjadi akibat disuntik vaksin. Perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui. Komnas KIPI menyatakan belum tentu semua kejadian ikutan pasca-imunisasi berkaitan dengan suntik vaksin. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengurus Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-imunisasi (Komnas KIPI) Indra Irawan menyatakan bahwa tak semua kejadian pasca-imunisasi terjadi akibat disuntik vaksin.

Indra kerap menemukan pasien yang menduga kejadian yang muncul itu adalah dampak vaksinasi. Padahal kejadian usai divaksin tersebut masih harus dikaji lebih lanjut.

"Kejadian pasca-imunisasi belum tentu memiliki keterkaitan (dengan vaksinasi). Untuk itu harus dilakukan kajian," kata Indra dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/1).


Indra menjelaskan, berbagai kejadian itu kerap dihubungkan usai pasien menjalani vaksinasi. Meski dampaknya baru terasa setelah bertahun-tahun.

"Namun yang terbanyak itu coincident. Semua kejadian dihubungkan dengan imunisasi. Mau sehari setelah, seminggu setelah, sebulan setelah, bahkan empat tahun setelah vaksinasi," ucapnya.

Menurut Indra, hanya Komnas KIPI yang dapat menentukan hubungan antara kejadian yang dialami penerima vaksin dan tindakan vaksinasi berdasarkan kajian.

Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 12/2017, kata dia, KIPI merupakan kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi dan diduga berhubungan dengan imunisasi. Dugaan tersebut dibuktikan melalui kajian yang dilakukan pihak independen.

Dalam hal ini, Komnas KIPI berperan sebagai pihak independen yang terdiri dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Persatuan Obstetri-Ginekologi Indonesia, Perhimpunan Hukum Kesehatan, dan lain-lain.

KIPI sendiri, kata dia, dibagi menjadi dua jenis, yakni serius dan non serius. KIPI serius meliputi kejadian medik yang menyebabkan rawat inap, kecacatan dan kematian. Sementara yang non serius tidak menimbulkan riisko potensial.

Ketika pasien menerima vaksinasi, terdapat beberapa reaksi yang bisa terjadi, yaitu reaksi lokal (nyeri, kemerahan, bengkak), reaksi sistematik (demam, nyeri seluruh tubuh, pusing) dan reaksi lainnya (alergi, syok, pingsan).

Prosesnya akan diawali dengan pemeriksaan lanjutan untuk mengidentifikasi KIPI. Indra mengatakan, pemeriksaan dilakukan setelah vaksinasi dosis pertama atau saat penyuntikan dosis kedua.

Namun jika pasien ingin melaporkan diri karena menduga mengalami KIPI, bisa langsung mengunduh formulir pendaftaran melalui https://bit.ly/formkipi atau di https://keamananvaksi.kemkes.go.id. Formulir kemudian dikirimkan melalui email atau situs resmi Komnas KIPI.

Indra menegaskan setiap perawatan KIPI akan dibiayai negara. Ia mengatakan saat ini Kementerian Kesehatan sedang merevisi Permenkes 12/2017 untuk memastikan setiap kejadian dibiayai melalui BPJS.

"Kebanyakan kasus coincident dan merupakan penyakit, maka semua peserta BPJS yang mengalami kejadian keterkaitan atau tidak, dicover BPJS. Sementara yang tidak atau belum bayar iuran akan diupayakan ditanggung negara. Peraturannya sedang diproses," tambah dia.

Sebelumnya vaksinasi covid-19 telah dilakukan di sejumlah daerah terhadap kelompok yang diprioritaskan, meliputi pejabat publik, tokoh agama, tokoh masyarakat sampai tenaga kesehatan. Hingga kini Komnas KIPI belum mengumumkan kasus pasca-imunisasi.

(fey/psp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK